Make your own free website on Tripod.com

Al-'Aqidah At-Tahawiyah
(Terjemahan)
karya al-Imam Abu Ja'far At-Tawahi al-Misri


Pendahuluan

Dengan Nama Allah, Maha Pengasih, Maha Penyayang

Al-'Aqidah Al-Tahawiyah, merupakan salah satu referensi klasik Aqidah dari Ahl As-Sunnah Wal-Jamaa'ah, bercorak Maturidiah (tetapi juga dijadikan rujukan bagi kaum Asy'ariah dan Salafi), yang telah sangat dikenal luas. Kitab ini banyak sekali diberi syarah (penjelasan) oleh berbagai ulama.

Al-'Aqidah Tahawiyah  meski ringkas, merupakan kitab dasar yang abadi, ia berisi hal-hal yang harus diketahui dan dipercayai oleh seorang muslim.

Pengarangnya adalah Imam Abu Ja'far Ahmad bin Muhammad bin Salamah bin Salmah bin `Abd al Malik bin Salmah bin Sulaim bin Sulaiman bin Jawab Azdi. Beliau terkenal dengan  Imam Tahawi, lahir di Mesir, hidup 239-321 A.H. ketika madzhab 4 sedang dalam perkembangan puncak, ilmu hadis dan fiqh puncak perkembangan. pesat. Imam Tahawi mereguk ilmu dari berbagai ulama yang otoritatif. Beliau semula adalah murid dari pamannya  Isma'il bin Yahya Muzni, seorang ulama Madzhab Syafi'i . Tetapi Imam tahawi sendiri kemudian mengikuti madzhab Imam Abu Hanifah. Karyanya di bidang fiqh adalah  Sharh Ma'ani al-Athar dan Mushkil al-Athar.

Kitab ini memberi prinsip-prinsip dari Aqidah Ahlu Sunah, yang di dalamnya membedakan dengan diberikan terhadap berbagai aliran lain seperti Mu'tazilah (rasionalis), Jahmiyyah ( menjisimkan Tuhan), Qadriyah, (kehendak bebas, free will) dan Jabriyah (keterpaksaan manusia) . Juga terhadap  Shi'ah, Khawarij (misal dalam hal sahabat)  dan lainnya.

Ahlu Sunah adalah kelompok terbesar dalam Islam, yang mengambil jalan tengah dan bersikap moderat dari berbagai  ekstrimitas, seperti yang dinyatakan dalam Al-Aqidah Al-Tahawiyah ini pada nomor 106, " Islam terletak di antara sikap berlebih-lebihanan dan pengabaian/penyederhanaan, antara tasybih (menyerupakan sifat Allah dengan lainnya) dan ta'til (meniadakah sifat-sifat Allah), antara fatalisme dan penolakan takdir Allah, dan antara kepastian --terlalu yakin, red-- (tanpa sadar akan penghitungan Allah) dan putus asa (dari kasih Allah)." Sehingga beberapa aspek dalam Al-Qadar, Al-Akhirah, dll. yang nampak sangat fatalistis, harus disertai dengan pemahaman tentang usaha/ikhtiar atau kasb (kemampuan) manusia, bahwa manusia diberi kebebasan memilih dan bertanggung jawab atas perbuatannya. (Insya Allah penulis akan mencoba membuat catatan ringkas tentang ini).

Tulisan di bawah ini adalah terjemahan kitab tersebut, dari terjemahan berbahasa Inggris. Penulis menyadari karena keterbatasan kami, terdapat banyak kekurangan dan kesalahan dalam menterjemahkan atau memahami naskah ini. Hal ini sepenuhnya tanggung jawab penulis, dalam hal ini kami memohon ampun kepada Allah SWT. Untuk itu kritikan dan koreksi sungguh sangat saya tunggu.

Bagi mereka yang ingin mengetahui sumber asli dalam bahasa Inggris, silahkan hubungi http://www.geocities.com/~abdulwahid/muslimarticles/tahawi.html

Terakhir, semoga apa yang kami lakukan merupakan amal baik di sisi-Nya.
Amiin.. Ya Mujibas Sailin,
warsono


Daftar Isi

At-Tauhid
Rasul
Al-Qur'an
Penyerupaan Allah (Tasybih)
Melihat Allah
Muslm yang Benar
Al-Mi'raj
Al-Haud
Asy-Syafa'ah
Al-Qadr
Al-Lauh dan Al-Qalam
Al-'Arsy dan All-Kursi
Nabi-Nabi
Al-'Ummah
Al-Akhirah
As-Sahabah
Al-'Ulama dan 'Awliya
Persatuan dalam Al-Islam
Ad-Du'a

Tauhid: Keesaan Allah

    1. Kita mengatakan bahwa kepercayaan tentang keesaan Allah adalah karena pertolongan Allah, -- bahwa Allah itu Esa tanpa sekutu.
    2. Tiada yang serupa dengan-Nya 
    3. Tidak ada yang dapat mencapai/meliputi Dia .
    4. Tidak ada tuhan lain kecuali Dia.  
    5. Dia adalah abadi (baqa) tanpa awal dan tiada berakhir
    6. Dia tidak akan pernah musnah (fana) atau menuju akhir
    7. Tidak suatu pun terjadi kecuali karena kehendak-Nya .
    8. Tidak ada imaginasi/gambaran yang dapat mencapai-Nya dan tidak ada pemahaman yang dapat mencapai-Nya.
    9. Dia berbeda dari segala makhluk-Nya
    10. Dia selalu Hidup dan tidak pernah mati, dan Dia selalu aktif, tiada pernah tidur
    11. Dia mencipta tanpa keperluan untuk melakukannya dan menyediakan keperluan makhluk-Nya tanpa usaha/ikhtiar.
    12. Dia menyebabkan kematian tanpa takut dan menghidupkan lagi tanpa kesulitan.
    13. Dia selalu ada dengan Sifat-sifat-Nya sebelum penciptaan. Dengan menciptakan makhluk dari tiada menjadi ada, tidaklah menambah apa-apa terhadap sifat-Nya. Karena Dia bersama sifat-sifat-Nya sejak sebelum keabadian (azali), dan tetap bersama/melekat terus tanpa berakhir. 
    14. Tidak hanya sesudah mencipta, Dia disifati "Pencipta", dan tidak juga dengan membuat permulaan sehingga Dia disifati "Yang Awal"
    15. Dia selalu menjadi Tuhan bahkan ketika tidak ada yang mempertuhankan, dan selalu menjadi Pencipta bahkan meskipun ketika tidak ada makhluk.
    16. Dia adalah "Yang membawa kehidupan dari yang mati", sesudah Dia memberi kehidpan pertama kali, dan tetap memiliki nama/sifat itu sebelum kehidupan ada. Begitu juga Dia memiliki nama "Pencipta" sebelum mencipta makhluk.
    17. Hal ini karena Dia memiliki kekuasaan untuk melakukan segala sesuatu, segala sesuatu tergantung pada-Nya, segala sesuatu mudah bagi-Nya, dan Dia tidak membutuhkan apa pun. "Tiada sesuatu apa pun yang serupa dengan Dia dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat" [ash-Shura 42:11]
    18. Dia menciptakan makhluk dengan ilmu-Nya.
    19. Dia menentukan taqdir bagi makhluk-Nya
    20. Dia membagi kepada mereka/makhluk lamanya hidup
    21. Tidak ada baginya yang terembunyi sebelum Dia menciptakan mereka, dan Dia mengetahui segala sesuatu akan terjadi pada mereka sebelum Dia menciptakan mereka.
    22. Dia memerintahkan mereka untuk menaati-Nya dan melarang mereka untuk durhaka pada-Nya
    23. Segala sesuatu terjadi sesuai dengan ketentuan dan kehendak-Nya, dan apa yang dikehendaki pasti terjadi.
      Apa yang manusia miliki hanyalah apa yang Dia kehendaki untuk mereka.
      Apa yang Dia kehendaki untuk mereka pasti terjadi, dan apa yang tidak Dia kehendaki pasti tidak terjadi.
    24. Dia memberi petunjuk kepada yang Dia kehendaki, dan melindungi mereka, dan menjaga mereka yang merugikan, karena kasih-Nya, dan Dia meyesatkan kepada siapa saja yang Dia kehendaki, merendahkan mereka, menyiksa mereka, karena keadilan-Nya.
    25. Segala sesuatu tunduk kepada Kehendaknya baik karena kasih-Nya atau Keadilan-Nya
    26. Dia Maha Suci dari memiliki lawan atau sekutu/serikat
    27. Tidak ada yang dapat bebas dari keputusan-Nya atau membalikkan perintah-Nya, atau mengalahkan perkara/urusan-Nya.
    28. Kita percaya kepada semua hal tersebut dan pasti bahwa segala sesuatu berasal dari Dia
    29. Rasul

    30. Dan kita yakin bahwa Muhammad adalah hamba yang terpilih dan Rasul pilihan yang dengannya Allah meridhainya.
    31. Dan dia adalah penutup para rasul dan Imam para mutaqin dan Rasul yang paling mulia dari seluruh Rasul, dan kekasih Allah di antara seluruh alam
    32. Siapa saja yang menyatakan kenabian  sesudahnya adalah salah dan dusta
    33. Dia adalah orang yang dikirim untuk seluruh jin dan seluruh manusia dengan kebenaran, petunjuk dan dengan cahaya dan sinar

Al-Qur'an

    1. Al-Quran adalah kalam (perkataan) Allah. Ia berasal darinya dengan perkataan yang tidak bisa dikatakan caranya. Dia menurunkan kepada Rasulnya melalui wahyu. Orang beriman menerimanya, sebagai kebenaran mutlak. Adalah pasti dan benar bahwa ia adalah kalam Allah
    2. Dia tidak diciptakan, sebagaimana perkataan manusia dan setiap orang yang mendengarnya dan mengatakan itu adalah perkataan manusia menjadi kafir. Allah memperingatkannya, membantahnya dan mengancam dengan neraka, sebagaimana firman-Nya, "Dia akan membakarnya ke dalam neraka" [al-Muddaththir 74:26]. Ketika Allah mengancam neraka kepada yang mengatakan, "Ini hanyalah perkataan manusia" [al-Muddaththir 74:25]. Kita tahu dengan pasti bahwa dia adalah kalam Pencipta Manusia dan bahwa dia sepenuhnya tidak sama dengan perkataan manusia.
    3. Penyerupaan Allah
      (Tasybih)

    4. Barangsiapa yang menggambarkan Allah dengan cara yang sama dengan manusia menjadi kufurr. Semua yang memegang hal ini akan memperhatikan dan menjaga diri dari berbagai perkataan seperti yang dikatakan oleh orang-orang kafir. Dan mereka akan mengetahui bahwa Dia, dalam Sifat-sifat-Nya, tidak seperti manusia
    5. Melihat Allah

    6. "Melihat Allah oleh ahli Sorga" adalah benar, tanpa penglihatan mereka serba-mencakup dan tanpa cara penglihatan yang dikenal. Seperti telah difirmankan, "Wajah-wajah (orang-orang mu'min) pada hari itu berseri-seri.Kepada Rabbnyalah mereka melihat." [al-Qiyamah 75:22-3]. Penjelasan dari hal ini adalah sebagaimana yang Allah ketahui dan kehendaki. Segala sesuatu yang telah sampai kepada kita dari Rasulullah saw, dalam sunah yang sahih, adalah seperti yang dia katakan dan artinya seperti yang dia maksudkan.
    7. Kita tidak akan mencapai hal itu, usaha untuk menginterpretasikan berdasar pendapat kita atau menuruti gambaran kita akan melewati batas. Tidak ada yang selamat dalam agamanya tanpa kepasrahan penuh kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW, dan meninggalkan pengertian atas hal-hal yang mutasyabihat (memiliki makna ganda) kepada orang-orang yang mengetahuinya.
    8. Muslim Yang Benar

    9. Orang Islam tidaklah selamat tanpa mendasari diri dengan ketaatan dan kepasrahan. Seseorang yang ingin mengetahui sesuatu yang di luar kemampuannya, dan yang memiliki akal yang tidak berisi kepasrahan, akan mendapati bahwa nafsu/keinginannya akan menutupi dirinya dari pemahaman yang murni mengenai Keesaan Allah yang benar, pengetahuan yang jelas dan keyakinan yang benar, dan dia akan terombang-ambing antara pengingkaran dan keyakinan, peneguhan dan penolakan, penerimaan dan penolakan. Dia akan tunduk pada bisikan-bisikan dan akan mendapati dirinya dalam kebingungan dan penuh keraguan, tidak dalam penerimaan orang yang beriman tidak juga penolakan orang yang ingkar.
    10. Kepercayaan manusia mengenai "melihat Allah" oleh ahl Janah tidak benar jika dia membayangkan seperti apa, atau menginterpretasikan menurut pemahaman sendiri atau sebenarnya, arti dari berbagai masalah yang musykil mengenai Zat Tuhan adalah dengan meniadakan interpretasi atasnya dan secara ketat menerima dengan ketundukan. "Inilah agama bagi orang Islam. Siapa saja yang tidak melindungi diri dari penentangan terhadap peniadaan sifat-sifat Allah, atau menyerupakan Allah dengan selain-Nya, telah sesat dan gagal dalam memahami Keagungan Allah, karena Tuhan kita, Yang Maha Agung dan Maha Suci, hanya dapat digambarkan dalam konteks Keesaan dan Kesatuan Yang Mutlak dan tidak ada makhluk dalam hal apa pun seperti Dia.