Make your own free website on Tripod.com

HIKAYAT-HIKAYAT MISTIS

Syaikh Al-Isyraq, Syihabuddin Yahya As-Suhrawardi


Bahasa Semut

Bab 8: Burung Merak Raja di Bawah Keranjang

(12)  Seorang  raja  mempunyai  sebuah taman, yang sepanjang empat musim selalu ditumbuhi tanam-tanaman yang wangi, hijau subur   dan   menyenangkan.  Air  mengalir   berlimpah-limpah melaluinya,  dan  segala   macam   burung    bernyanyi   dari dahan-dahan pohon. Setiap hal yang baik dan indah yang dapat kita bayangkan terdapat di dalam taman itu.  Dan  di  antara semuanya itu ada sekelompok burung merak yang cantik.

Sekali  waktu sang raja mengambil salah seekor burung merak, dan memerintahkannya agar ia  dimasukkan  ke  dalam  kantung kulit  supaya  bulu-bulunya tidak dapat dilihat, sehingga ia tidak dapat mengagumi keindahannya sendiri dengan  cara  apa pun.   Dia   juga   memerintahkan   agar   burung  merak  itu ditempatkan di bawah sebuah keranjang yang  hanya  mempunyai satu  lubang,  melalui  lubang itu sedikit biji-bijian dapat dituangkan ke dalamnya untuk makanannya.

Lama waktu berlalu.  Burung  merak  itu  lupa  pada  dirinya sendiri,  sang raja, taman, dan burung-burung merak lainnya. Ia melihat  pada  dirinya  sendiri.  Burung  tersebut  tidak melihat  apa-apa  kecuali  kantung  kulit yang kotor itu. Ia mulai menyukai tempat tinggalnya yang gelap  dan  jelek;  ia percaya di dalam hatinya bahwa tidak mungkin ada tempat yang lebih besar dari ruangan di dalam keranjang itu,  sedemikian rupa  sehingga ia menganggapnya sebagai keyakinan bahwa jika ada orang menyatakan tentang suatu kehidupan, tempat tinggal atau   kesempurnaan   di  luar  yang  ia  ketahui,   maka  ia menganggapnya sebagai kekafiran mutlak, omong  kosong  besar dan kebodohan yang murni.

Sekalipun  demikian,  setiap kali angin segar berhembus, dan harumnya  bunga-bunga  dan  pepohonan,  violet  (=    sejenis tumbuhan  yang  bunganya  berbau harum), melati dan tumbuhan rempah-rempah sampai ke  hidung  burung  itu,  ia  merasakan kesenangan  yang  mengejutkan  melalui  lubang  itu.  Timbul kekhawatiran di dalam hatinya. Ia  merasakan  adanya  hasrat untuk  pergi  dan kerinduan batin, tetapi ia tidak tahu dari mana kerinduan itu berasal,  sebab,  kecuali  kantung  kulit itu,  ia  tidak  mengetahui  apa-apa;  selain keranjang itu, tidak ada dunia lain;  selain  biji-bijian  itu,  tidak  ada makanan   lain.   Ia   telah   melupakan    semuanya.  Ketika sekali-sekali  ia  mendengar   suara   burung-burung    merak bernyanyi,  dan  burung-burung  lain  berlagu, kerinduan dan hasratnya  timbul;  tetapi  ia   tidak   terbangunkan    oleh suara-suara burung-burung itu atau hembusan angin. Pernah ia bergairah memikirkan sarangnya.

Angin sepoi-sepoi bertiup menyentuhku  dan  hampir
mengucapkan  kata-kata,  'aku adalah kurir untukmu
dari kekasihmu.'

(13)  Lama  sekali ia memikirkan apa sesungguhnya angin yang
harum itu, dan  darimanakah  bunyi-bunyian  yang  indah  itu
datang.

Wahai  kilat  yang  menyambar,  dari  perlindungan
siapa engkau muncul?

Tetapi ia tidak sadar-sadar juga,  meskipun  sepanjang  masa
itu kesenangan tetap tinggal di hatinya.

Ah,   kalau   saja     Laila       sekali      saja
mengirimkan  salam karunianya,  meskipun  diantara
kami  terbentang  debu  dan bebatuan besar.

Salam  kegembiraanku  akan  merupakan    jawabnya,
atau  akan menjeritlah kepadanya si burung  hantu,
burung  sakit  yang memekik di  tengah  keremangan
kuburan.

Burung  merak itu bodoh, karena ia telah lupa kepada dirinya
dan juga tanah airnya.

. . . janganlah hendaknya kamu bertingkah  seperti
orang yang melupakan   Allah,  yang  mengakibatkan
Allah membuat mereka lupa diri pula. (QS 59:19)

Setiap kali hembusan  angin  atau  suara-suara  datang  dari
taman,  timbul  hasrat  dalam  diri  si  burung  merak tanpa
mengetahui mengapa demikian.

Kedua baris ini adalah karya seorang penyair:

Kilat  Ma'arra  bergerak  di  tengah   malam,   ia
melewati    malam    di   Rama   yang    melukiskan
kebosanannya.

Ia  benar-benar   menyedihkan    para  penunggang,
kuda-kudanya,   unta-unta,   dan  terus  bertambah
menyedihkan,   hingga   ia   hampir     menyedihkan
pelana-pelana  (catatan:  baris-baris  ini berasal
dari Al-Ma'arri, Siqth al-Zand. hal. 51).

(14) Ia tetap  kebingungan  selama  beberapa  waktu,  sampai
suatu   hari   sang   raja  memerintahkan  agar   burung  itu
dilepaskan dari keranjang dan kantung kulitnya untuk  dibawa
menghadapnya.

Peristiwa  kebangkitan  itu  terjadi  hanya dengan
satu kali tiupan sangkakala saja. (QS 37:19)

Apakah  dia  tidak mengetahui, apabila nanti sudah
dibangkitkan  segala   isi    kubur?   Dan    telah
terungkap  segala  isi  kalbu?  Sesungguhnya Tuhan
mereka  pada  hari      itu       maha   mengetahui
keadaannya. (QS 100:9-11)

Ketika  burung  keluar  dari  penutupnya,  burung  merak itumelihat  dirinya  berada  di  tengah-tengah  taman.    Ketikamemandang  bulu-bulunya  sendiri,  dan melihat taman besertaaneka  ragam  bunganya,  atmosfir  dunia,  kesempatan  untukberjalan  kesana-kemari  dan  terbang  tinggi,  serta  semuasuara, irama, bentuk dan berbagai benda yang ada, ia berdirimendesah  seakan-akan  tak sadarkan diri (ejakulasi teofanik'syath' yang terkenal dari Husayn ibn Manshur Al-Hallaj).

Wahai, sungguh  aku  menyesali  kelalaianku  dalammemenuhi kewajiban kepada Allah. (QS 39.56)

Lalu  Kami  singkapkan   tabir    yang     menutupimatamu,  maka pandanganmu menjadi lepas jelas. (QS
50:22)

Mengapa   ketika  nyawa  sampai  di  kerongkongan,padahal  ketika  itu    kamu  melihat  orang  yang sedang  melepaskan  nyawanya  itu,  sedangkan Kamilebih dekat  lagi   kepadanya    daripada     kamu,namun kamu tidak melihat? (QS 56:83-85)

Jangan  berbuat  begitu,  kelak   kamu  akan  tahuakibatnya. Sekali  lagi,  jangan  berbuat  begitu,kelak  kamu    akan    tahu  juga  akibatnya.   (QS102:3-4)

==================

Syaikh Al-Isyraq Syihabuddin Yahya As-Suhrawardi Syihabuddin Yahya ibn Habasyi  ibn  Amirak  dari  Suhrawardi (dekat  Zanjan di Iran barat- laut), dalam tradisi filosofis dan mistik (tasawuf) di dunia Islam timur,  dikenal  sebagai Syaikh   Al-Isyraq   ('Guru   Pencerah')    menyusul   aliran Isyraqiyyah dalam teosofi dan filsafat dimana  dia  dianggap sebagai  pendirinya. Dipenjara di Aleppo atas perintah putra Shaladin, Al-Malik Azh-Zhahir, dan duhukum mati  pada  tahun 1191  dalam  usia  38  tahun,  dan karena inilah dia dikenal sebagai  Suhrawardi  Maqtul  (yang  dihukum   mati),    untuk membedakannya dari beberapa Suhrawardi terkenal lainnya. Howgh!

 

PENERBIT MIZAN
KHAZANAH ILMU-ILMU ISLAM, September 1992
Jln. Yodkali 16, Telp. 700931 (dua saluran)
Bandung 40124