Make your own free website on Tripod.com

Menolak Perintah Allah

Apa dosa iblis sampai ia dikutuk Allah dan dilarang masuk
surga? Kita tahu jawabannya: iblis  menolak perintah Allah
untuk bersujud kepada Adam. Apa dosa Adam sehingga
ia diusir dari surga? Kita tahu jawabannya: Adam melanggar
larangan Allah untuk tidak memakan buah khuldi.

Yang mengherankan kita adalah kenapa nasib Adam berbeda
dengan nasib iblis? Bukankah keduanya berbuat dosa? Namun
mengapa pada kasus Adam, Allah berkenan memaafkan Adam
sedangkan pada kasus iblis, Allah melaknat iblis?

Ibn Qayyim al-Jauziyah dalam "al-Fawaid" mencoba menghilangkan
rasa heran kita. Bagi murid Ibn Taimiyah ini, terdapat
perbedaan filosofi antara "menolak perintah Allah" dengan
"melanggar larangan Allah". Iblis menolak perintah Allah
karena kesombongan dirinya yang merasa lebih unggul
dari Adam. Sedangkan Adam melanggar larangan
Allah karena dorongan nafsu.

Kesombongan berakibat fatal. Hadis Nabi mengatakan, "Tidak akan
masuk surga orang yang dihatinya ada sebesar dzarrah (biji sawi)
dari sifat sombong." Al-Qur'an melukiskan sifat iblis dengan
"....ia enggan dan takabur, dan adalah ia termasuk golongan
orang-orang kafir" (QS 2: 34)


Pada kasus Adam, dorongan hawa nafsu yang dimilikinya membuat
ia "tergelincir" namun ketika ia sadar akibat buruk perbuatannya,
ia langsung memohon ampunan Allah. Ini menunjukkan hawa nafsu
manusia bisa cepat dipadamkan dan manusia tak segan meminta maaf
kepada Allah.

Kesombongan rupanya jauh lebih berbahaya daripada godaan
hawa nafsu. Kesombongan sulit dilenyapkan. Efek sombong
membuat Allah murka. Kesombongan membuat kita enggan


mengakui kesalahan kita. Alih-alih menyadari kekeliruan
yang kita perbuat, kita malah sibuk mencari pembenaran
rasional atas kesalahan kita. Na╣udzubillah....

Tengoklah diri kita. Ketika kita tidak melakukan perintah Allah,
dan melanggar larangan-Nya, apakah itu kita lakukan karena kita
sombong? Moga-moga tidak!

Tengok diri kita sekali lagi, apakah kita sering menganggap
diri kita lebih spesial dibanding orang lain? Apakah kita
sering merasa lebih paham tentang Islam dibanding
saudara-saudara kita? Apakah kita merasa harus
mendapat │hak khusus▓ ketika melanggar suatu aturan ?
Apakah kita sudah merasa bakal masuk surga dan menganggap
orang lain bakal masuk neraka? Apa dorongan hati kita
ketika kita tebar tuduhan sesat, bid╣ah, atau kafir
kepada saudara-saudara kita se-Islam, yang kebetulan
berbeda pemahaman keislamannya dengan kita?

Buka cermin hati kita. Ketika kita hamburkan emosi kita
menanggapi pendapat orang lain yang berbeda dengan kita,
apakah itu didorong oleh perasaaan bahwa lawan diskusi
kita tidak mengerti tentang topik diskusi sehingga
hanya kitalah yang paham akan topik tersebut. Kitalah
yang selalu benar; dan yang lain cenderung selalu salah.
Jika ini yang ada di hati, maka  berhati-hatilah
karena kita sudah │diperbudak▓ oleh kesombongan kita.

Ketika kita kecam pendapat ulama yang kebetulan berbeda
dengan kita,  apakah itu karena kita merasa lebih
tahu dari ulama itu? Ketika hati kita menjerit,
│Aku lebih objektif karena aku jauh dari istana,
sedangkan ulama itu menjual ayat ilahi karena sering
sowan ke istana,▓ ingatlah kisah iblis ketika dia
berkata, │Aku dicipta dari api karena itu aku lebih
tinggi dari Adam yang dicipta dari tanah!▓ Padahal
disisi Allah, ketakwaan adalah ukuran-Nya;
bukan soal tanah-api, tidak juga soal istana atau gubuk.

Ketika kita berhasil menumbangkan sebuah rejim, apakah
kita berhak menepuk dada atas usaha kita dan menganggap
orang lain sebagai oportunis dan pahlawan kesiangan?
Moga-moga tidak! Namun, apakah kita merasa lebih │islami▓
dengan pihak lain hanya karena kita atau partai kita
memuat simbol keislaman, sementara yang lain konon hanya
menekankan pada │substansi▓ semata; bukan │simbol▓?

Sebaliknya, apakah kita cemooh mereka yang bergabung
dengan partai yang memuat "simbol" (baca: asas Islam)
 sebagai mereka yang tidak mengerti akan  ruh tasyri'
ayat Qur'an dan Hadis sehingga kita cap mereka sebagai
Islam fundamentalis yang perlu belajar Islam lagi?

Pada akhirnya, apakah kita tolak perintah Allah untuk
menjaga ukhuwah dan saling berkasih sayang dengan saudara
kita hanya karena │baju▓ kita berbeda?

Kubur rasa sombong, pendam nafsu  kita dan jangan tolak
perintah Allah! Jadilah Adam, yang merintih memohon
ampunan Ilahi; jangan jadi Iblis yang takabur dan sombong!

Armidale, 23 Februari 1999