Make your own free website on Tripod.com

Dimana Tsa'labah Sekarang?


Seorang sahabat Nabi yang amat miskin datang pada Nabi
sambil mengadukan tekanan ekonomi yang dialaminya.
Tsa'labah, nama sahabat tersebut, memohon Nabi untuk
berdo'a supaya Allah memberikan rezeki yang banyak
kepadanya.

Semula Nabi menolak permintaan tersebut sambil
menasehati Tsa'labah agar meniru kehidupan Nabi saja.
Namun Tsa'labah terus mendesak. Kali ini dia
mengemukakan argumen yang sampai kini masih sering
kita dengar, "Ya Rasul, bukankah kalau Allah memberikan
kekayaan kepadaku, maka aku dapat memberikan kepada
setiap orang haknya".

Nabi kemudian mendo'akan Tsa'labah.

Tsa'labah mulai membeli ternak. Ternaknya berkembang
pesat sehingga ia harus membangun petenakakan agak
jauh dari Madinah. Seperti bisa diduga, setiap hari ia sibuk
mengurus ternaknya. Ia tidak dapat lagi menghadiri shalat
jama'ah bersama Rasul di siang hari. Hari-hari selanjutnya,
ternaknya semakin banyak; sehingga semakin sibuk pula
Tsa'labah engurusnya. Kini, ia tidak dapat lagi berjama'ah
bersama Rasul. Bahkan menghadiri shalat jum'at dan
shalat jenazah pun tak bisa dilakukan lagi.

Ketika turun perintah zakat, Nabi menugaskan dua orang
sahabat untuk menarik zakat dari Tsa'labah. Sayang,
Tsa'labah menolak mentah-mentah utusan Nabi itu. Ketika
utusan Nabi datang hendak melaporkan kasus Tsa'labah
ini, Nabi menyambut
utusan itu dengan ucapan beliau, "Celakalah Tsa'labah!"

Nabi murka, dan Allah pun murka! Saat itu turunlah Qs
at-Taubah: 75-78

"Dan diantara mereka ada yang telah berikrar kepada Allah,
"Sesungguhnya jika Allah memberikan sebahagian
karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah
dan pastilah kami termasuk orang-orang yang saleh."

Maka setelah Allah memberikan kepada mereka
sebahagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia
itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang
yang selalu membelakangi (kebenaran).

Maka Allah menimbulkan kemunafikan pada hati mereka
sampai kepada waktu mereka menemui Allah, karena
mereka telah memungkiri terhadap Allah apa yang telah
mereka ikrarkan kepada-Nya dan (juga) karena mereka
selalu berdusta.

Tidaklah mereka tahu bahwasannya Allah mengetahui
rahasia dan bisikan mereka, dan bahwasannya Allah amat
mengetahui yang ghaib?"

Tsa'labah mendengar ada ayat turun mengecam dirinya, ia
mulai ketakutan. Segera ia temui Nabi sambil
menyerahkan zakatnya. Akan tetapi Nabi menolaknya,
"Allah melarang aku menerimanya." Tsa'labah menangis
tersedu-sedu. Setelah Nabi wafat, Tsa'labah menyerahkan
zakatnya kepada Abu Bakar, kemudian Umar, tetapi kedua
Khalifah itu menolaknya. Tsa'labah meninggal pada masa
Utsman.

Dimanakah Ts'alabah sekarang?

Jangan-jangan kitalah Tsa'labah-Tsa'labah baru
yang dengan linangan air mata memohon agar rezeki Allah
turun kepada kita, dan ketika rezeki itu turun, dengan
sombongnya kita lupakan ayat-ayat Allah.

Bukankah kita dengan alasan sibuk berbisnis tak lagi
sempat sholat lima waktu. Bukankah dengan alasan ada
"meeting penting" kita lupakan perintah untuk sholat
Jum'at. Bukankah ketika ada yang meminta sedekah dan
zakat, kita ceramahi mereka dengan cerita bahwa harta
yang kita miliki ini hasil kerja keras, siang-malam
membanting tulang; bukan turun begitu saja dari langit, lalu
mengapa orang-orang mau enaknya saja minta sedekah
tanpa harus kerja keras.

Kitalah Tsa'labah....Tsa'labah ternyata masih hidup dan
"mazhab"-nya masih kita ikuti...

Konon, ada riwayat yang memuat saran Nabi Muhammad
SAW (dan belakangan digubah
menjadi puisi oleh Taufiq Ismail),

"Bersedekahlah, dan jangan tunggu satu hari nanti di saat
engkau ingin bersedekah tetapi orang miskin menolaknya
dan mengatakan 'kami tak butuh uangmu, yang kami
butuhkan adalah darahmu'!"

Dahulu Tsa'labah menangis di depan Nabi yang tak mau
menerima zakatnya. Sekarang ditengah kesenjangan
sosial di negeri kita, jangan-jangan kita bukan hanya akan
menangis namun berlumuran darah ketika orang miskin
menolak sedekah dan zakat
kita!