Make your own free website on Tripod.com
« September 2017 »
S M T W T F S
1 2
3 4 5 6 7 8 9
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30
You are not logged in. Log in
Entries by Topic
All topics  «
Hikmah Mata Air
Monday, 25 June 2007
RIndu Kami Pada Ya Rasul (1)
   
Dua lagu ini sungguh mewakili kerinduan saya kepada Rasulullah SAW, Insan Mulia, Penghulu segala Nabi.

Rindu kami padamu, ya Rasul
Rindu tiada terperi
Berabad jarak darimu, Ya Rasul
serasa engkau di sini

Cinta ikhlasmu pada manusia
bagai cahaya suarga
dapatkah kami membalas cintamu
secara bersahaja
(Bimbo)

Malu rasanya menyatakan cinta
kepada dia Kekasih Allah
Karena dia insan mulia
sedangkan diriku insan biasa

Kupujuk jua hati dan rasa
meluahkan rasa cinta membara
di dalam pujian ucapan selawat
tanda penghormatan seorang umat

Selagi upaya kuturuti ajaranya
Apa terdaya kuamalkan sunahnya
Moga di dunia mendapat berkat
Di akhirat nanti beroleh syafaat

karena pribadinya aku terpesona
karena budinya aku jatuh cinta
rinduku padanya tiada terkata
nantikanlah daku di taman surga
.....
(Hijjaz, http://youtube.com/watch?v=oHjiUYvOVH4)

Kerinduan, sekaligus rasa malu. Kerinduan teramat sangat akan kasih, kelembutan, kebijakan, keagungan akhlaq, namun malu merasa diri saya terasa jauh sekali dari sifat-sifat beliau.

Kebanggaan, sekaligus perasaan rendah diri. Kebanggaan karena menjadi bagian dari umat beliau, kekasih Allah, namun merasa rendah diri, karena rasanya tidak ada bisa dalam diri saya yang bisa saya banggakan ke hadapan beliau.

Sebagai tanda kecintaan kepadamu, Ya Rasul. Di bulan Maulid kelahiranmu, dengan segenap jiwa dan raga kami sampaikan hormat dan cinta kami sedalam-dalamnya kepada Mu.
Cinta yang penuh dengan kerinduan.
Cinta yang penuh dengan harapan.
Cinta yang penuh dengan kekaguman.
dan maafkan kami, jika kami masih banyak mengecewakanmu.

Ya Rasul, salam 'alaika
Ya Habib, salam 'alaika
Shalawatullah alaika....
(Wa 'alaa ahlil baitika...)

Posted by soni69 at 9:39 AM BST
Bekerja adalah Melayani

Bekerja adalah Melayani

 

Perbuatan/pekerjaan itu tergantung dari motivasinya,

dan sungguh baginya akan mendapatkan

dari apa yang menjadi motivasinya.

(Nabi Muhammad SAW)

 

Ketika sedang menyapu jalan, Badu petugas kebersihan yang sudah bertahun-tahun bertugas ditanya seseorang, “Sedang apa, Pak?”. Dengan wajah marah dia menjawab,”Memangnya nggak lihat! Saya lagi nyapu sampah!”. Temannya Madu dengan pertanyaan sama, dia tersenyum dan menjawab, “Oh, saya sedang membersihkan kota. Mudah-mudahan kota ini menjadi lebih bersih dan menyenangkan”.

Pekerjaan keduanya sama yaitu menyapu sampah yang berserak di jalan, tetapi kedua melihat dengan cara yang sangat berbeda. Akibat dari cara pandang yang berbeda, melahirkan sikap kerja yang berbeda juga. Badu merasa dirinya rendah, bahkan mungkin nis-ta, dan dia pun bekerja dengan penuh keterpaksaan. Bekerja baginya adalah sesuatu “penjara”. Namun bagi Madu pekerjaannya sangat mulia, karena bermanfaat bagi seluruh warga kota! Sehingga dia bekerja dengan sungguh-sungguh dan gembira.

Kalau kita renungkan, apa pun pekerjaannya kita akan melakukan pekerjaan yang rutin, itu-itu saja. Operator PLTD meng-hidupkan mesin dan ditengah deru mesin mengecek dan memegang ini-itu, petugas pelayanan gangguan di tengah terik matahari atau kedinginan malam memper-baiki instalasi, petugas cater keliling kampung, petugas loket melayani antrean yang panjang, petugas administrasi memelototi berkas-berkas yang menggunung atau huruf dan angka yang bertebaran di layar komputer. Begitu setiap hari, itu kita lakukan selama bertahun-tahun.

Kalau kita melihat pekerjaan kita dengan kacamata Badu, maka -tidak ada lain- kita akan merasa bahwa pekerjaan kita ini sesuatu yang membosankan, jenuh, tidak berharga. Mungkin kita merasa seperti robot atau sekrup saja, tidak ada kebanggaan dalam bekerja.

Tetapi coba kita memakai kacamata Madu, maka kita akan merasakan bahwa apa yang kita lakukan setiap hari meski kelihatan kecil namun sungguh sesuatu yang mulia. Karena kerja kita memberi manfaat kepada masyarakat, kita melayani orang lain, kita berguna bagi hamba Tuhan yang lain.

Kita bukan sekedar menyalakan mesin, di balik itu kita memberi penerangan kepada ratusan atau ribuan orang. Kita memberi kebahagiaan kepada ribuan orang!

Ya, apa pun pekerjaan kita, bersyukurlah! Karena dengannya kita melayani dan memberi manfaat bagi orang lain. Bekerja adalah melayani.

Marilah, kita bekerja dengan senyum gembira, karena kita sedang melayani orang lain, kita sedang membuat orang lain tersenyum…

Posted by soni69 at 9:37 AM BST

Newer | Latest | Older