Make your own free website on Tripod.com

POTRET SALAF ASH-SHALIH

Pengantar
Salaf artinya yang terdahulu, lawannya  khalaf artinya yang kemudian.
Salaf ash-shalih biasanya mengacu pada generasi awal Islam, terutama generasi
shahabat (yang pernah hidup bersama Rasul), tabi'in (artinya pengikut, yaitu
generasi sesudah sahabat) dan tabi'it-tabi'in (generasi sesudah tabi'in). Biasanya
diambil pembatas abad ke-3 H, jadi mereka yang hidup sebelum hingga sesudah
abad ke-3 dikelompokkan dalam ulama salaf. Sedang jika hidup sesudahnya
disebut ulama khalaf. Imam madzhab yang empat misalnya masuk dalam
kelompok salaf. Sedangkan Imam Al-Ghazali, Ibn taimiah, masuk dalam ulama
khalaf.
Shalaf ash-shalih merupakan generasi yang memiliki otoritas yang tinggi dalam
keilmuan dan ketaqwaan. Sehingga menjadi rujukan hampir semua kelompok
Islam.
Berikut potret ulama salaf atau Shalaf ash-shalih

1. Salaf dan Khosyyah (takut) mereka kepada Allah Azza wa-Jalla :
2. Salaf dan Dzikrul (ingat) Maut
3. Salaf dan kezuhudan (tidak tertambat hati) mereka terhadap dunia.
4. Salaf dan Wara' (hati-hati)
5. Salaf dan rasa takut mereka akan Ujub (bangga diri)
6. Salaf dan rasa takut mereka menjadi terkenal.
7. Salaf dan Iffah (tidak menggantungkan orang lain)
8. Salaf dan semangat mereka dalam mengikuti al-Haq (kebenaran).
9. Salaf dan semangat mereka dalam menuntut ilmu.
Bersambung...

1. Salaf dan Khosyyah mereka kepada Allah Azza wa-Jalla :

Dari Abdullah bin Dinar berkata: Saya pergi bersama Ibnu Umar radliyallahu
'anhu ke Makkah, di tengah perjalanan, kami berhenti sebentar untuk
istirahat. Tiba-tiba ada seorang penggembala turun dari bukit menuju ke arah
kami. Ibnu Umar bertanya kepadanya ," Apakah kamu penggembala?" "Ya",
jawabnya.(Ingin mengetahui kejujuran anak kecil penggembala itu) Ibnu Umar
melanjutkan, "Juallah kepada saya seokor kambing saja." Anak kecil itu
menjawab, " Saya bukan pemilik kambing-kambing ini, saya hanyalah hamba
sahaya." "Katakan saja pada tuanmu, bahwa seekor kambingnya dimakan
serigala", kata Ibnu Umar radliyallahu 'anhu. "Lalu dimanakah Allah 'Azza
wa-Jalla ?", jawab penggembala mantap. Ibnu Umar berguman, "Ya, benar. Di
manakah Allah 'Azza wa-Jalla ?" Kemudian beliau menangis dan dibelinya hamba
sahaya tadi lalu dimerdekakan . Diriwayatkan oleh Thabrany, para perawinya
tsiqqah. Siyaru A'laamin Nubala`, Abu Muhammad bin Ahmad bin Utsman
adz-Dzahaby (wafat th. 748 H.) II/216

Dari Salm bin Basyier, bahwa Abu Huroiroh radliyallahu 'anhu menangis di
kala sakit. Ditanyakan kepadanya, "Apa yang membuat anda menangis ?" Beliau
menjawab, " Aku bukan menangis terhadap dunia kalian ini, tetapi karena
jauhnya perjalanan, sedangkan bekalku sedikit. Aku akan berjalan mendaki,
lalu turun menuju jannah atau turun menuju neraka. Aku tidak tahu mana yang
akan kutuju." Siyar II/625

ari Mughirah bin Hakim rohimahullah, Fatimah -istri Umar bin Abdul Aziz
rohimahullah- telah berkata, "Mughiroh pernah meberitahu kami bahwa dari
sekian banyak orang ada yang shalat dan shiyamnya lebih banyak dari Umar bin
Abdul Aziz. Akan tetapi aku belum pernah melihat seseorang yang lebih takut
kepada Allah 'Azza wa-Jalla selain beliau. Adalah jika telah selesai
menunaikan shalat Isya, beliau duduk di tempat beliau sujud, lalu mengangkat
tangannya dan terus menangis sampai tertidur. Kemudian terbangun dan beliau
tetap saja berdo'a mengangkat tangan sambil menangis sampai tertidur lagi.
Dan begitulah yang beliau lakukan sepanjang malam.Siyar V/137

Dari al-Qosim bin Muhammad, "Kami pergi safar bersama Ibnul Mubarak
rohimahullah. Aku selalu bertanya dalam hati, Apa kelebihan orang ini yang
menyebabkannya sangat terkenal. Kalau dia sholat, kami juga sholat. Kalau
dia shoum, kami juga shoum. Kalau dia berperang, kami juga berperang. Kalau
dia pergi haji, kami juga melakukan hal yang sama." al Qosim melanjutkan,"
Pada suatu saat, di tengah perjalanan ke Syam, kami makan malam di sebuah
rumah. Tiba- tiba lampu padam. Sebagian kami berdiri (masuk kamar) untuk
mengambil lampu. Tidak lama kemudian seseorang datang dengan lampu menyala.
Aku melihat Ibnul Mubarak, ternyata jenggutnya telah basah dengan air mata."
Aku berkata dalam hati," Dengan khasyyah ini, rupanya beliau lebih baik dari
pada kami. Mungkin ketika lampu padam, ruangan jadi gelap gulita, beliau
ingat kematian." (Shifatus-Shafwah, Jamaluddin Abul Faraj Ibnul Jauzy
(510-597 H.), IV/129)

Dikatakan kepada Imam Ahmad bin Hambal rohimahullah ," Bagaimana  keadaan
anda di pagi ini?!" Beliau berkata, " Bagaimana keadaan seseorang sedangkan
Robbnya  menuntut  untuk mengamalkan yang wajib,  Nabi    menuntutnya   untuk
mengamalkan  yang  sunnah, dua Malaikat  memintanya untuk memperbaiki   amal,
jiwanya menyuruhnya  untuk  mengikuti hawanya, Iblis menggodanya untuk
mengamalkan hal-hal  yang fahsya'  (dosa),  sedang Malaikat  pencabut   nyawa
selalu mengintai  untuk  mencabut  nyawanya  dan    keluarganya selalu
menuntutnya untuk memenuhi nafkah sehari-harinya." Siyar, XI/227

2. Salaf dan Dzikrul Maut

Umar bin Khoththob radliyallahu 'anhu berkata, "Hisablah diri kalian sebelum
kalian dihisab. Dan timbanglah amal kalian sebelum kalian ditimbang.
Sesungguhnya akan lebih ringan hisab yang akan kalian hadapi besok, jika
kalian mau menghisab diri kalian hari ini. Berhiaslah (bersiaplah) untuk
menghadapi hari ditampakkannya seluruh. Pada hari itu kamu dihadapkan
(kepada Rabbmu), tiada sesuatupun dari keadaanmu yang tersembunyi (bagi
Allah). (QS. 69.al Haqqoh: 18). Shifah, I/149

Hasan al-Bashry rohimahullah menulis surat kepada Umar bin Abdul Aziz
rohimahullah, bunyinya; Dan ingatlah wahai Amirul Mukminin akan kematian,
hal-hal yang terjadi sesudahnya.dan sedikitnya pengikutmu di hari itu. Maka
tambahlah bekal untuk menyongsongnya dan menyongsong terjadinya kegoncangan
yang dahsyat, yaitu ketika seseorang lari dari saudara, ibu, bapak, istri
dan anaknya. Kitab Fie Fudlulid-Dien wal-Adab, Ibrahim bin Sulaiman
at-Thaamy, I/100

Ibnu Basyir berkata rohimahullah ; Suatu ketika, kami melewati pekuburan
bersama Ibrahim bin Adham. Kemudian beliau mendekati beberapa makam dan
meletakkan tangannya di atasnya, ia berkata, " Semoga Allah 'Azza wa-Jalla
merahmati anda wahai fulan." Kemudian beliau mendatangi makam lain dan
mengucapkan kata-kata yang sama. Demikian sampai tujuh makam. Lalu beliau
berdiri diantara makam-makam itu dan berkata dengan nada tinggi, "Wahai
fulan, wahai fulan... Kalian telah meninggal dan kalian mendahului kami
sedang kami akan segera menyusul." Kemudian beliau menangis dan tenggelam
dalam fikirannya. Setelah beberapa saat, beliau menghampiri kami dengan
wajah sembab dan air matanya berlinang bagaikan mutiara yang cemerlang.
Shifah, IV/135-136

Dari Maimun bin Mihran, adalah Umar bin Abdul Aziz rohimahullah setiap malam
mengumpulkan para fuqoha', mereka saling bermudzakarah tentang mati, hari
kiamat, dan hari akhirat. Lalu mereka menangis. Ibnu 'Uyainah berkata; Umar
bin Abdul Aziz menulis surat untuk kami, tidak ada yang hafal isinya kecuali
aku dan Makhul (isinya); Amma ba'du, Sesunggunya barang siapa memperbanyak
mengingat mati, akan ridla dengan dunia yang sedikit. Dan barang siapa
menjadikan perkataannya sebagai amalnya akan sedikit bicaranya kecuali dalam
urusan yang bermanfaat baginya. Wassalam. Siyar, V/134

Dari Abu Qubail bahwa Umar bin Abdul Aziz rohimahullah menangis, sedangkan
beliau masih kanak-kanak. Hal itu terdengar oleh ibunya. Lalu ia dipanggil.
Ibunya bertanya ," Anakku, apa yang menyebabkan engkau menangis?" Dia
menjawab, "Saya ingat tentang kematian." Maka ibunya pun menangis. Dan
adalah jika Umar ingat kematian, anggota badannya bergetar. Pernah ada
seseorang membaca ayat {e ae cec ce ea caeee} Dan apabila
mereka dilemparkan ke tempat yang sempit di neraka itu dengan dibelenggu,
mereka di sana mengharapkan kebinasaan. (QS. 25.al-Furqon : 13 )
dihadapannya, dia menangis dengan keras, lalu dia berdiri dan beranjak ke
rumah dan orang-orang meninggalkannya. al-Bidayah wan-Nihayah, Abul Fida`
Isma'il bin Katsir al-Qarsyi (wafat th. 774 H.), IX: 217

3. Salaf dan kezuhudan mereka terhadap dunia.

Ibnu Mas'ud radliyallahu 'anhu berkata,"Kalian ini lebih panjang sholatnya
dan  lebih banyak ijtihadnya dari pada para sahabat Rosululloh shollahu
"alaihi wa sallam. Padahal mereka lebih  mulia  dari pada kalian." Dikatakan
kepada beliau," Apa yang menyebabkan mereka demikian ?" Beliau berkata,"
Karena mereka lebih zuhud terhadap dunia dan lebih cinta akherat dari pada
kalian !" Shifah, I/220

Ketika Khalifah Umar bin Khattab radliyallahu 'anhu mengadakan inspeksi ke
Syam, ia ditemui oleh para pemimpin dan pembesar pasukannya. Beliau bertanya
," Dimanakah saudaraku Abu Ubaidah ?" Maka datanglah Abu Ubaidah
radliyallahu 'anhu mengendarai seekor unta dan memberi salam kepadanya, lalu
memerintah kepada pasukannya, "Tinggalkan kami (berdua) !" Kemudian keduanya
berjalan hingga sampai di kediaman Abu Ubaidah radliyallahu 'anhu. Keduanya
turun dan masuk ke dalamnya. Umar tidak mendapatkan di rumah Abu Ubaidah
selain pedang, perisai dan perlengkapan kudanya. Maka Umar berkata," Mengapa
engkau tidak mengambil barang (yang lain)?" Siyar, I/16

Majma' bin Sam'an at-Taimy berkata : Ali bin Abi Thalib radliyallahu 'anhu
pergi ke pasar sambil membawa pedangnya, beliau berkata," Siapa yang mau
membeli pedangku ini ? Seandainya aku mempunyai empat dirham untuk membeli
kain, tentulah aku tidak akan menjualnya"

Ibnu Abbas radliyallahu 'anhu berkata; Ali pernah membeli baju gamis seharga
tiga dirham, padahal saat itu dia sebagai Khalifah. Lalu beliau memotong
ujung lengannya sampai sebatas pergelangan tangannya dan berujar : Segala
puji bagi Allah yang telah memotong baju ini dari kemewahan.Siyar, V111/4

Dari Maslamah bin Abdul Malik berkata ; Saya telah masuk ke kamar Umar bin
Abdul Aziz rohimahullah, sedangkan baju gamisnya kotor, maka aku katakan
kepada istrinya - dia adalah saudara perempuan Maslamah -, "Cucilah
pakaiannya itu," Dia menjawab," Ya, saya akan melakukannya." Lalu akupun
kembali ke rumah Umar bin Abdul Aziz namun aku masih mendapatkan baju beliau
sebagaimana semula (kotor), maka aku katakan lagi apa yang telah kukatakan
sebelumnya. Dan jawabnya," Demi Allah, beliau tidak memiliki gamis yang
lain." Siyar, V/134

Imam Ahmad rohimahullah ditanya tentang seseorang yang memiliki harta 1000
dinar, adakah dia bisa zuhud . Beliau menjawab," Ya, dengan syarat,
hendaklah tidak gembira jika bertambah dan tidak sedih jika berkurang.
Madarijus-Salikin, Muhammad bin Abu Bakr bin Ayyub (Ibnu Qayyim
al-Jauziyyah) wafat th.751H. II/11

4. Salaf dan Wara'

Dari Aisyah; Adalah Abu Bakar as-Siddiq ra. memiliki budak yang membayar
upeti untuk beliau dan beliau makan dari upeti tersebut. Pada suatu hari, ia
memberikan sesuatu kemudian Abu Bakar memakannya. Budak tersebut bertanya,
"Tahukah engkau apa ini ?" maka Abu Bakar bertanya, 'Apa ini ?' Dia
menjawab, 'Pada masa jahiliyah aku meramal untuk seseorang. Saya tidak
mengetahui perdukunan dengan baik kecuali hanya berpura-pura. (Pada suatu
hari) orang tersebut bertemu denganku dan memberiku (imbalan) atas perbuatan
tersebut, yaitu yang engkau makan'. Serta merta Abu Bakar memasukkan
tangannya untuk memuntahkan seluruh isi perutnya. (Diriwayatkan oleh
Bukhari) Riyadlus-Shalihin. an-Nawawy. 224. Daar as-Salam Riyadl. 1991.
Dalam riwayat lain: Abu Bakar berkata : Jika ia (potongan makanan) tidak
keluar kecuali dengan jiwaku, sungguh aku akan mengeluarkannya. Saya
mendengar Rasulullah saw bersabda: Setiap jasad (daging) yang tumbuh dari
yang haram, maka api neraka lebih utama baginya. sehingga saya takut dalam
jasadku tumbuh sesuatu dari sepotong makanan ini. (ibid)

Abdullah bin Mubarak berkata; Sungguh, menolak satu dirham syubhat lebih aku
sukai dari pada aku bersedekah seratus ribu, seratus ribu sampai enam ratus
ribu. Shifah. IV/222

Adalah Umar bin Abdul Aziz, menyalakan lampu jika bekerja untuk urusan kaum
muslimin. Tapi jika terdapat seseorang yang berbicara dengannya untuk selain
urusan kaum muslimin, beliau mematikannya karena takut dihisab pada hari
kiamat dari setetes atau dua tetes minyak yang terbakar untuk selain
kemaslahatan kaum muslimin. Manhajut Tabi'in fie Tarbiyatin Nufus, Abdul
Hamid al-Bilaly. 91 Daar ad-Da'wah Kuwait. 1992.

Sesungguhnya Kahmas rahimahullah kehilangan dinar, maka ia mencarinya dan
menemukannya namun tidak memungutnya. Ia berkata, "Mungkin ini bukan milik
saya." Kahmas (tabi'in) wafat, 149 H. Siyar. VI/317

Ja'far bin Muhammad bin Ya'qub berkata, Datang seorang utusan dari rumah
Imam Ahmad bin Hanbal kepada beliau, memberitakan bahwa Abu Abdurrahman (ana
knya) sakit dan menginginkan keju. Maka beliau memberikan uang kepada
seseorang dari dari kawannya dan berkata, "Belikan ia keju dengan uang ini
"!. Kemudian orang tersebut datang dengan membawa keju diatas daun ubi
(untuk sayur). Ketika beliau melihatnya, bertanya, "Dari mana kamu peroleh
daun ini ?" ia menjawab: "Saya mengambilnya dari tukang sayur". Beliau
bertanya, "Sudahkah kamu meminta izin ?", "belum". Jawabnya. Beliau berkata,
"Kembalikan !". Manaqib al-Imam Ahmad bin Hanbal. Ibnul Jauzy. Tahqiq ; Dr.
Abdullah bin Abdul Muhsin at-Turky, 354.

5. Salaf dan rasa takut mereka akan Ujub

Mutharrif bin Abdullah rohimahullah berkata," Tidur semalaman (tidak bangun
malam) lalu pagi harinya menyesal, lebih aku sukai daripada bangun malam
semalaman lalu di pagi hari ada rasa ujub dalam diriku." Siyar, IV/190

Suatu hari Fudloil bin Iyadl dan Sufyan ats-Tsaury rohimahullah berkumpul,
saling mengingatkan. Maka Sufyan mulai menangis dan berkata ," Aku berharap
majlis ini membawa rahmat dan berkah." Fudhoil menimpali," Akan tetapi wahai
Abu Abdullah, aku takut justru kalau hari ini adalah hari yang paling
berbahaya bagi kita. Bukankah kamu telah mengatakan hal-hal yang baik, dan
begitu juga denganku. Aku takut, jangan-jangan kamu menghiasi perkataan
karena diriku dan begitu pula dengan aku." Maka Sufyan menangis (lagi) dan
berkata : Engkau telah mengingatkanku, semoga Allah 'Azza wa-Jalla
menjagamu. Aina Nahnu Min Akhlaqissalaf, Abdul `Aziz bin Nashir al Jalil
,27-28

Dari al-Husain bin al-Hasan al-Marwazy, Ibnul Mubarak rohimahullah berkata,"
Jadilah orang yang tidak dikenal, dan tidak suka terkenal (syuhrah) Dan
janganlah engkau tampakkan bahwa dirimu tidak suka terkenal sehingga dirimu
akan merasa tinggi. Sebab pengakuan bahwa engkau seorang yang zuhud telah
mengeluarkanmu dari zuhud. Sebab kamu mengundang pujian dan sanjungan
kepadamu." Siyar, IV/124

Imam  Syafi'i rohimahullah berkata," Jika  kamu  takut ujub dikarenakan
amal-amalmu, maka pikirkanlah keridhoan  siapa yang kau cari, kenikmatan apa
yang kau sukai dan hukuman apa yang kau hindari. Barang siapa memikirkannya,
maka ia akan merasakan betapa kecil amal yang ia perbuat." Siyar, X/42

Abu Hatim ar-Rozy berkata; Ubadah al-Marwazy berkata : Kami bersama Ibnu
Mubarak rohimahullah dalam satu sariyah (ekspedisi) di negeri Romawi...
Kemudian salah satu anggota pasukan Romawi itu menantang perang tanding.
Seseorang dari kaum muslimin maju dan meladeninya beberapa saat, sehingga ia
berhasil melukai dan membunuhnya. Orang- orang berdesakan ingin mengetahui
sang pahlawan. Ternyata dia adalah Abdullah bin Mubarak. Dia menutup
wajahnya dengan kainnya. Aku memegang ujung penutup wajahnya lalu aku
menariknya. Dan ternyata dia adalah Abdullah. Beliau berkata, "Wahai Abu
'Amru, Anda termasuk yang telah berbuat jahat kepada kami." Taarikh Baghdad,
al-Khathiib al-Baghdaady, X/167; Siyar, VIII/350

6. Salaf dan rasa takut mereka menjadi terkenal.

Dari Habib bin Abu Tsabit berkata; Pada suatu hari Ibnu Mas'ud radliyallahu
'anhu keluar rumah. Beberapa orang mengikutinya. Beliau bertanya, "Apakah
kalian mempunyai keperluan denganku?" Mereka menjawab, "Tidak, kami hanya
ingin jalan-jalan bersama Anda." Beliau berkata, "Kembalilah kalian!
Sesungguhnya perbuatan ini akan menjadi kehinaan bagi yang mengikuti dan
fitnah bagi yang diikuti." Shifah, I/214

Dari Ibnu Mubarak; Sufyan ats-Tsaury berpesan kepadaku, "Jauhilah syuhrah
(terkenal), sebab tidaklah aku menemui seorang (syaikh)pun, kecuali selalu
melarangku darinya!" Siyar, VII/260

Ibrahim bin Adham berkata, "Seorang hamba belumlah disebut shidiq kepada
Allah Azza wa-Jalla jika masih menyukai syuhrah." Siyar, VII/393

Dari Ibnu Mubarak; Aku bertanya kepada Ibnu Idris, "Saya ingin pergi ke
perbatasan (untuk berjihad). Tunjukkanlah kepadaku orang yang paling baik di
sana." Ia menjawab, "Temuilah Muhammad bin Yusuf al-Ashbahany!" Aku bertanya
lagi, "Di mana tempat tinggalnya?" Ia menjawab, "Di Mushoishoh dan dia biasa
ke pantai." Maka Abdullah bin Mubarak pergi menuju Mushoishoh , lalu mencari
tahu tentang Muhammad bin Yusuf. Ternyata orang-orang tidak ada yang
mengetahuinya. Ibnu Mubarak berkata, "Salah satu kelebihan anda adalah anda
tidak dikenal orang. Shifah, IV/76-77

Dari Ibnu Muhairiz, Fadlalah bin 'Ubaid mendengar dan aku katakan kepadanya:
Berilah aku nasihat ! Dia berkata: Ada beberapa hal, semoga Allah memberikan
manfaat bagimu dengannya, jika kamu bisa mengenal tanpa dikenal, lakukanlah,
jika kamu bisa mendengar tanpa berbicara, lakukanlah, dan jika kamu bisa
berguru tanpa ada yang berguru kepadamu lahukanlah. Aina Nahnu Min Akhlaqis
Salaf, Abdul Aziz Nashir al Jalil, hal:24


7. Salaf dan Iffah

Dari Ibnul 'Aliyah, bahwasanya Rasulullah shallallah 'alaihi wa-sallam
bersabda, "Siapakah diantara kalian yang mau menjamin kepadaku, untuk tidak
meminta sesuatu kepada orang lain. Dan (sebagai balasannya) aku akan
menjaminnya dengan jannah?" Tsauban segera berkata, "Aku wahai Rasulullah."
Maka semenjak kejadian itu Tsauban tidak pernah meminta sesuatu apa pun
kepada orang lain. Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ibnu Majah. Al-Mundziri
berkata ; Isnadnya shahih. Siyar, III/18

Dari Nu'man bin Hamid; Aku menemui Salman radliyallahu 'anhu bersama
pamanku, sedangkan Salman sedang menganyam daun kurma. Aku mendengar beliau
berkata, "Saya membeli bahannya satu dirham, kemudian saya anyam, lalu saya
jual seharga tiga dirham. Satu dirham saya gunakan untuk modal, satu dirham
sebagai nafkah keluarga, dan satu dirham saya sedekahkan. Seandainya Umar
radliyallahu 'anhu melarang saya, saya tidak akan berhenti dari pekerjaan
ini. Siyar, I/547 Padahal gaji Salman 5000 dirham . Semuanya diinfakkan.

Abu Sa'id al Khudry radliyallahu 'anhu berkata: Suatu pagi kami tidak
mempunyai makanan. Kuikatkan batu (pada perutku) untuk menahan lapar.
Istriku berkata, "Datanglah kepada Rosulullah shallahu 'alaihi wa sallam,
mintalah kepada beliau. Pernah si fulan datang meminta kepada beliau, dan
beliau memberinya. Pernah juga yang lain datang meminta, beliau pun
memberinya juga. Bahkan pernah juga yang lain lagi datang meminta kepada
beliau, beliau pun memberinya juga. Aku berkata, "Tidak, sampai jika aku
tidak mendapatkan apa-apa sama sekali." Lalu aku meneliti, ternyata memang
sudah tidak ada apa-apa. Aku pun pergi menemui Rasulullah shallahu 'alaihi
wa sallam, waktu itu Nabi sedang berkhutbah. Kudengar diantara perkataan
beliau, "Barang siapa mencukupkan dirinya apa adanya, Allah 'Azza wa-Jalla
akan benar-benar memberinya kekayaan . Dan barang siapa menjaga dirinya dari
meminta- minta, maka Allah' Azza wa-Jalla akan menghormatkannya." Abu Sa'id
berkata, "Setelah kejadian itu, aku tidak pernah meminta kepada seorang pun.
Dan Allah terus memberiku rizqi, sehingga -sepengetahuanku- akulah yang
paling banyak hartanya dari kalangan Anshor. Shifah, I/363

Dari Nafi' bahwasannya al Mukhtar bin Abu Ubaid memberi Ibnu Umar uang,
beliau terima dan berkata : Sungguh aku tidak mau meminta sesuatu kepada
seseorang, akan tetapi aku tidak akan menolak rizki yang Allah 'Azza
wa-Jalla berikan kepadaku. Para perawinya shahih. Siyar, III/220; Thabaqat,
Ibnu Sa'ad IV/150

Sufyan ats-Tsaury berkata, "Saya lebih suka memiliki uang 10.000 dirham lalu
Allah tidak menanyaiku tentangnya (pada hari kiamat), dari pada (saya tidak
memiliki sesuatu kemudian) meminta-minta pada manusia. Siyar, VI/241

8. Salaf dan semangat mereka dalam mengikuti al-Haq.

Anas bin Malik radliyallahu 'anhu berkata: Aku adalah seorang penghidang
minuman di rumah Abu Tholhah ketika khamr diharamkan... Tiba-tiba terdengar
seseorang menyeru. Abu Tholhah berkata, "Coba keluar dan lihatlah !" Akupun
keluar . Ternyata seseorang meyeru, "Ketahulah sesungguhnya khamr telah
diharamkan. Ia telah ditumpahkan di jalan-jalan Madinah". Abu Tholhah
berkata, "Keluar dan tumpahkanlah !" Maka akupun menumpahkannya. Dalam
riwayat lain: Maka sejak itu orang-orang tidak mengulanginya (minum khomr)
dan tidak pernah menanyakan tentangnya . HR. Muslim.

Ibnu Umar radliyallahu 'anhu ditanya tentang haji tamattu'. Beliau
membolehkan dan menganjurkannya. Si penanya berkata, " Apakah Anda pantas
menyelisihi bapak Anda?" Lalu Ibnu Umar menerangkan bahwa Umar pun tidak
menolaknya. Ketika si penanya mengulang-ulang pertanyaan tadi, Ibnu Umar
berkata, "Lalu, Kitabullah ataukah Umar yang pantas untuk diikuti?!"
Diriwayatkan oleh al-Baihaqy. Al-Majmu', Muhyiddin Abu Zakariya Yahya bin
Syaraf an-Nawawy (631-676 H.), VII/158

Seseorang bertanya kepada Imam Syafi'i, "Anda memakai hadits ini Abu
Abdullah?!" Maka Imam Syafi'i menjawab, "Bila aku meriwayatkan hadits shahih
dari Rasulullah, lalu aku tidak menjadikannya sebagai dalil, maka aku
saksikanlah bahwa akalku telah hilang." Siyar, X/34

Diriwayatkan  bahwa seseorang mendatangi  Ibnu  Mas'ud bertanya, "Wahai Abu
Abdurrohman,  ajarkanlah kepadaku kata-kata yang ringkas yang sarat dengan
manfaat!" Beliau berkata, "Janganlah kamu menyekutukan Alloh  dengan
sesuatu! Tetaplah bersama al-Qur`an (konsisten) ke mana saja ia berada!
Siapa  saja yang datang kepadamu dengan kebenaran, maka terimalah,  walaupun
dari orang yang jauh dan kau benci! Dan siapa saja yang datang kepadamu
dengan kebatilan, tolaklah, walaupun dari orang yang kau cintai dan dekat
denganmu!" Shifah, I/457

Imam Syafi'i berkata, "Jika kalian mendapatkan dalam tulisanku sesuatu yang
menyelisihi sunnah Rosululloh, maka ambillah sunnah, dan tinggalkan
perkataanku!" Siyar, X/34

9. Salaf dan semangat mereka dalam menuntut ilmu.

Berkata Salman al-Farisy kepada Hudzaifah radliyallahu 'anhuma , "Wahai
saudara Bani 'Abbas, ketahuilah bahwa ilmu itu banyak, sedangkan umur itu
pendek. Maka carilah ilmu sebatas kebutuhanmu dalam urusan dienmu.
Biarkanlah selainnya dan tak usahlah kau hiraukan!" Shifah, I/280

Dari Anas dari Abu Darda' berkata, "Jadilah 'alim atau muta'allim atau
mustami' (pendengar). Dan jangan menjadi orang yang keempat, sehinggakamu
celaka!" Saya bertanya kepada al-Hasan, "Apakah yang keempat itu?" Beliau
menjawab, "Mubtadi' (orang yang beramal tanpa tahu dasarnya). Shifah, I/319

Abul 'Aliyah berkata; Aku menempuh perjalanan berhari-hari kepada seseorang
untuk belajar darinya. Maka aku melihat shalatnya, Jika aku dapatkan bagus
aku menetapinya. Tetapi jika aku dapatkan ia menyia-nyiakannya, maka aku
pergi lagi, dan tidak jadi belajar darinya. Aku katakan, "Terhadap selain
shalat ia lebih menyia-nyiakannya." Siyar, IV/209

Abdurrahman bin Ardak bercerita; Suatu ketika Ali bin al-Husain memasuki
masjid. Ia meminta jalan kepada mereka yang hadir sampai ia duduk di halaqoh
Zaid bin Aslam. Melihat hal itu Nafi' bin Jubair berkata, "Semoga Allah
'Azza wa-Jalla mengampuni Anda, Anda seorang sayyid dari kebanyakan manusia,
tetapi Anda masih bersusah-susah untuk menghadiri majlis seorang hamba
sahaya." Maka Ali bin al-Husain berkata, "Ilmu itu dibutuhkan, didatangi dan
dicari di mana pun ia berada." Siyar, IV/388

Yahya bin Abi Katsir berkata, "Tidaklah ilmu itu akan didapatkan dengan
istirahatnya badan." Shifah, IV/70