Make your own free website on Tripod.com

AYAT-AYAT CAHAYA

 

Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus , yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis) , Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan- perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. 24:35)
Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang, (QS. 24:36)
laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah, mendirikan shalat, dan membayarkan zakat. Mereka takut pada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang. (QS. 24:37)


Dulu, ketika masih senang sekali dengan masalah Quran dan Sains, saya memahami ayat cahaya An-Nur:35 ini sebagai bagaimana cara kerja tata surya, bintang planet, bima sakti...

Kemudian, saya menyadari bahwa ayat ini bukanlah bermaksud untuk itu walau ada hubungannya. Ayat ini bersifat ruhani, sufistik daripada sains. Ayat ini salah satu dari ayat yang banyak dikaji oleh para sufi. Di antaranya adalah Al-Ghazali, beliau menulis sebuah buku "Misykatul Anwar" (misykat cahaya-cahaya) , khusus membahas makna ayat ini satu demi satu. Apa makna setiap kata, apa misykat, kaca, pelita, dan lain-lain. Hinga konsep yang cukup rumit masalah ruhul qudsi An-nabawi. Meski masuk akal, saya tidak paham sama sekali, apa artinya...

Belakangan, terutama setelah baca-baca beberapa buku, saya agak dong -agak saja- bahwa makna ayat ini sebenarnya sederhana sekali. BAHWA ALLAH TELAH MEMBERI CAHAYA/HIDAYAH/ NUR ITU BERTUMPUK-TUMPUK KEPADA KITA. Kemana saja kita menghadap sesungguhnya adalah cahaya, adalah petunjuk, adalah "wajah"  Allah.

Di sains kita bisa menjunjung langit yang tinggi hingga dataran bima sakti, black hole, cluster, nebula, big-bang...
Kita akan menemukan Keagungan tak Terperikan dari ALLAH SWT... ALLAHU AKBAR...

Kita bisa mengecil menuju molekul, atom, elekctron, quark, lepton, nuklir kuat, nuklir lemah, elektrostatik. ... Kita kembali menghadap Ketelitian, Ketersembunyian ALLAH SWT... Allah Al-Bathin... .

Kita melihat gunung, rumput, pohon, ikan... dalam CD-CD Harun Yahya, atau National Geographic.. . Kembali kita "ketemu" Allah, bagaimana Kebesaran, Keindahahan, Cinta Allah terpampang jelas...

Ketika kita melihat orang, character, kebahagian, duka, bahasa, keanekaragaman manusia...

kembali kita "ketemu" Allah..

Seperti kata Chairil Anwar:
Tuhanku,
dipintuMu aku mengetuk,
aku tak bisa berpaling,

 

Pengembaraan makro dan mikro kosmos di tingkat fisik di atas adalah cahaya tingkat paling luar, karena paling gampang dan kasat mata. Namun sangat sering disampaikan dalam Al-Quran, bahkan menurut Mahdi Ghulsyani (dalam Filsafat Ilmu Al-Quran) disebut bahwa lebih dari 10% ayat Quran berisi tentang fenomena alam. Di satu sisi dimaksudkan sebagai alat memahami Allah, di sisi lain untuk dimanfaatkan konsekuensinya (sunatullahnya) bagi kesejahteraan alam.. Allah adalah cahaya langit dan bumi...

Cahaya yang lebih dalam, yang menjadi fokus ayat ini. adalah sebagaimana maksud ayat ini. Yaitu diri kita sendiri, nafs kita sendiri. Dalam diri kita sebenarnya terdapat berlapis-lapis cahaya, yang diberikan Allah kepada kita.

Ketika menafsirkan  "tunjukilah (berilah huda) kami ke jalan yang lurus" (Al-Fatihah) , sebagian ulama memberikan makna bahwa "hidayah"  itu berlapis-lapis, mulai dari indera, rasa, akal, insting (naluri), dan taufik.

Saya ingin memulai dari fisik kita, yang juga adalah cahaya Allah.  Tubuh kita dibentuk dalam kondisi terbaik. Komposisi  seluruh organ dirancang  sangat tepat (the best-fit) untuk kebutuhan hidup kita. Kalau temen2 kedokteran mungkin akan sangat mengetahui hal ini. Kita juga bisa belajar, misalnya dari CD Harun Yahya. Ya, fisik kita adalah cahaya Allah. Bahkan kadang Allah menulis namanya secara eksplisit. Coba perhatikan jari tangan kita yang lima: Satukan ujung jari telunjuk dan ujung jempol. Lalu eja / baca dalam huruf Arab, mulai dari kelingking: alif (!), jari manis: lam(J), jari tengah: lam(J), dan bulatan jari telunjuk dan jempol: ha (o). 4JJI, bukan?

Panca indera (atau mungkin serba indera) adalah cahaya Allah berikutnya. Ia seperti jendela yang menghubungkan dunia dalam diri kita dengan dunia luar. Ia seperti interface, dalam dunia komputer. Dengan indera kita mengenal bentuk, warna, gerak, gelap terang, panas, halus, suara, bau, dan lain-lain. Panca indera adalah Cahaya Allah yang mengenalkan kita kepada Allah melalui gerak, warna, dll.

Perasaan, adalah Cahaya Allah yang lain. Perasaan adalah respon kita terhadap sesuatu yang terjadi di luar, seperti sakit karena ada sesuatu yang menusuk tubuh kita.
Ini adalah respon rasa fisik. Ada lagi respon non-fisik seperti, marah, senang, sedih, gembira. Dari mana datangnya rasa itu? Perasaan ini adalah potensi yang luar biasa jika diaktifkan, keindahan, cinta, keheningan, marah dalam prosa, puisi, lukisan, tarian, dan aneka elaborasi rasa. Muncul dari rasa. Perasaan adalah cahaya Allah yang lain.

Ada cahaya Allah yang lain, seperti Naluri, Akal, dan Intuisi. Saya kira ini sangat jelas, mari kita gali cahaya Allah itu...

Allah menyatakan cahaya Allah itu bukan dari barat , bukan pula dari timur... bukan dari mana-mana... Ia ada inheren dalam setiap manusia... Cahaya-cahaya itu hampir-hampir sudah bisa menerangi walau belum disentuh api.

Manusia, siapa pun, di mana pun, akan dengan sendirinya punya cahaya kebaikan, keindahan, kecenderungan kepada kebenaran (hanif), kekuatan, cinta, persatuan...  Inilah anggukan universal (istilah Ari Ginanjar). Inilah di antara cahaya-cahaya, yang bertumpuk-tumpuk kepada manusia.

Agama/Islam adalah hanyalah api yang mengobarkan cahaya-cahaya yang ada dalam diri manusia itu, sehingga menjadi terang benderang, selaras dengan cahaya Allah. Agama adalah menyelaraskan cahaya dalam diri manusia dengan fitrah, dengan cahaya alam semesta, dengan cahaya Allah Maha Cahaya. Cahaya di atas cahaya...
 

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah);
(tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.  Tidak ada perubahan pada fitrah Allah.(Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui , (QS. 30:30)


Kepasrahan, ketundukan kita (itulah Islam) untuk untuk selaras dengan Cahaya Allah itu, sering disebut sebagai taufik (yang artinya selaras, sesuai, cocok). Inilah cahaya terbesar, yang tidak dimiliki semua orang. Inilah terutama yang kita pinta dalam shalat kita "Ihdina shirathal mustaqim..."

Keselarasan atau "nyambung"-nya (istilah Abu Sangkan) cahaya dalam diri kita dengan Cahaya Allah adalah semata-mata karena petunjuk Allah. "Allah-lah yang membimbing kepada Cahaya-Nya kepada siapa yang dikehendaki" .
Itulah yang akan melahirkan "laki-laki/orang-orang yang tidak dilalaikan dari mengingat Allah". Karena ia bersama langit dan bumi, bersama burung-burung, bersama atom, --sama -- bertasbih, bersujud, memuji Allah sepanjang waktu.... 24 jam...
 

Laa haufun 'alaihim wa laa hum yah zanuun... tiada ketakutan, tiada pula bagi mereka kesedihan...

 

SUBHANALLAH,

WALHAMDULILLAH,

WALAA ILAAHA ILLALLAHU

WALLAHU AKBAR

Warsono, Dundee, Scotland