Make your own free website on Tripod.com

AYAT-AYAT KEGELAPAN

(lanjutan Ayat-ayat Cahaya)

 

Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang tindih-bertindih, apabila dia mengeluarkan tangannya, hampir-hampir dia tiada dapat melihatnya, (dan) barangsiapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitpun. (QS. 24:40)

 

 

Sayang sekali meski Allah SWT telah memberikan kepada kita cahaya bertumpuk tumpuk kepada manusia, ‘Cahaya di atas cahaya’. Namun entah kenapa kebanyakan kita justru menutup (kafara, ‘covered’) diri-sendiri dengan kegelapan.

 

Sesungguhnya manusia itu dzalim dan bodoh (dzaluman jahula).’(Al-Quran, maaf lupa ayatnya)

 

Bahasa gampangnya “keras kepala”, stubborn, “geblek”,hatinya keras laksana batu. Mengapa? Itulah kegelapan, sebagai lawan dari cahaya. Kita membangun sendiri kegelapan itu, sehingga bertumpuk-tumpuk, “gelap gulita yang berindih-tindih”.

 

Ada banyak sekali kegelapan yang dapat menutup kita itu, semakin banyak kita menyusunnya semakin bertumpuklah kegelapan itu. Ada kegelapan dari dalam diri ada juga kegelapan dari luar. Semua berpusat pada dua hal: nafsu (syahwiah) dan egoisme (ghodhobiah).

 

Nafsu (keinginan) pada dasarnya adalah netral, tapi sayang nafsu kalau tidak dikendalikan ia akan meminta lebih. Sehingga ia cenderung kepada keburukan, seperti ayat:

“Sesungguhnya nafsu selalu mengajak kepada kejahatan, kecuali (nafsu) yang dirahmati Tuhan,” (QS Yusuf: 53)

 

Nafsu inilah pangkal dari kegelapan, kita menjadi gelap karena harta, tahta, dan wanita/pria (sex). Kegelapan inilan yang kita kejar-kejar, kita perebutkan, kita tuju. Inilah yang ditakuti Rasulullah SAW pada umatnya sesudah beliau wafat. Kecintaan kepada dunia telah menutup cahaya yang bertumpuk-tumpuk dari Allah menjadi kegelapan yang bertumpuk-tumpuk.

 

Selain nafsu ada sifat-sifat egiosme yang juga ikut menambah tumpukan kegelapan, Al-Quran menyebut banyak sekali sifat itu seperti tergesa-gesa (17:11), suka membantah (18:59), suka melampaui batas (10:12), keluh kesah ( 70:20), kikir  (70:19), suka ingkar ( 100:6), merasa cukup (96:7), susah payah (90:4) dan lemah (4:28)

 

Di samping kegelapan di dalam diri, ada juga kegelapan dari luar berupa syaitan baik berupa jin dan manusia (QS An-Nas), lingkungan/tradisi buruk, pemimpin/idola yang buruk.

 

Semua kegelapan itu mengumpul di dalam hati mengotori hati, sehingga hatinya menjadi gelap. Ia menjadi seperti batu.

 

“Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal di antara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai daripadanya dan di antaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air daripadanya dan di antaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan. (QS. 2:74)

 

Karena menuruti hawa nafsu, kita telah berubah orientasi dari seharusnya, ia telah mempertuhankan hawa nafsunya.

 

Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat).Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran [QS. Al Jatsiyaat (45) : 23]

 

Kegelapan bertumpuk-tumpuk itu menjadikannya buta!

 

Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada. [QS. Al Hajj (22) : 46]

 

Karena telah memperturutkan hawa nafsu, cahaya Allah yang bertumpuk-tumpuk itu, justru diselewengkan untuk menambah kegelapan di dalam hatinya. Panca indera, perasaan, akal, naluri, bahkan kadang agama pun dia gunakan untuk menjustifikasi keburukan,”...gelap gulita yang tindih-bertindih, apabila dia mengeluarkan tangannya, hampir-hampir dia tiada dapat melihatnya, (dan) barangsiapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitpun”.

 

Na’dzubillahi min dzalik.

 

Semoga Allah membimbing kita menuju Cahaya-Nya.

 

Amien...., Ya Nuur, Ya Haadi....

 

Warsono, Dundee, Scotland