Make your own free website on Tripod.com

HADIAH PAHALA KEPADA ORANG MATI

Orang sering kirim doa, alfatihah, Surat Yasin, dll. Apakah ibadat badaniah seperti solat, puasa, bacaan al-Quran dan zikir memberi pahala kepada si mati...?

Terdapat  perbedaan dalam masalah ini, yaitu:

Golongan Pertama:
Abu Hanifah, Ahmad, jumhur ulama’ salaf dan golongan Asya’irah - mereka berpendapat bahwa pahala dari ibadat badaniah sampai kepada si mati.

Dalil:
Golongan ini berhujjah dengan dalil al-Quran, al-Sunnah, al-Ijma’ dan Qias yang benar. Dalil-dalil mereka adalah sebagai berikut:

Pertama - telah  maklum bahwa pahala untuk satu-satu amalan adalah menjadi hak pengamal itu sendiri. Selanjutnya jika dia menghibahkan (memberikan) pahala yang dimilikinya itu kepada saudaranya sesama islam, sudah tentu dibolehkan tanpa ada halangan. Hal ini samalah seperti seandainya dia memberikan suatu barang daripada hartanya kepada saudaranya semasa hayatnya.

Kedua - syari’at islam dengan jelas telah menegaskan bahwa pahala puasa sampai kepada si mati menunjukkan bahwa pahala bacaan al-Quran dan ibadat badaniah lainnya juga sampai kepada si mati. Dari satu sudut pula coba kita lihat, bahwa ibadat ibadat puasa yang amalannya amt berat sekali yaitu dengan menahan diri daripada makan, minum dan lainnya dengan disertai oleh niat sebelumnya, telah ditegaskan oleh Syari’ (Allah) bahwa pahalanya dapat sampai kepada si mati. Itu adalah puasa... yaitu suatu ibadat yang begitu rupa sukarnya, apalagi bacaan al-Quran yang hanya merupakan ibadat dengan amalan dan niat sahaja, sudah tentu pahalanya juga dapat sampai kepada si mati.

Golongan Kedua:
Pendapat masyhur di dalam mazhab syafi’e dan Imam Malik - mereka berpendapat bahwa pahala dari ibadat badaniah tidak akan sampai kepada si mati.

Dalil:
Pahala tidak sampai kepada si mati daripada ibadat-ibadat yang tidak dapat digantikan penunainya oleh orang lain seperti keislaman, solat, puasa dan bacaan al-Quran. Pahala dari ibadat ini khusus untuk pengamalnya sahaja. Ia tidak dapat diberikan kepada orang lain, dengan maksud tidak sampai kepada si mati. Masalah ini samalah dengan masalah tidak boleh bagi seseorang melakukan ibadat berkenaan untuk mereka yang masih hidup.

Golongan ini mengambil hadis Nabi Muhammad s.a.w :(Riwayat an-Nasaai dengan sanadnya yang sampai kepada ibnu Abbas)

Golongan ketiga:
Mereka mengatakan pahala dari segala amalan tidak sampai kepada si mati. Baik   amalan yang disepakati atau yang diperselisihkan oleh para ulamak.

Dalil:
Pendapat golongan ini bersandarkan dari al-Quran dan Sunnah Rasulullah s.a.w. Antaranya ialah:

Penolakan Terhadap Hujjah Ini.

Bila kita lihat pada hadis di atas, Rasulullah s.a.w tidak mengatakan "terputus manfaat" tetapi mengatakan "terputus amalan". Amalan seseorang memang diakui hasilnya adalah milik pengamalnya. Namun jika dia memberikannya kepada orang lain, pahala tersebut dapat sampai kepada orang itu.