Make your own free website on Tripod.com

Istiwa’ adalah Perbuatan Tuhan

( Qur'an 7:54; 13:2; 20:5; 25:59; 32:4)

Shaykh Muhammad Hisham Kabbani

"Istiwa’ adalah salah satu dari Sifat-sifat Perbuatan (min sifat al-af`al) menurut mayoritas pemahaman."  - Al-Qurtubi.1

"Penetapan Arsy-Nya di langit telah diketahui, sedang Arsy-Nya di bumi adalah kalbu dari orang-orang yang mengikuti Tauhid (ahl al-tawhid). Dia berkata: “Dan pada hari itu delapan orang malaikat menjunjung 'Arsy Rabbmu di atas (kepala) mereka. (QS. 69:17) , dan mengenai singgasana Qalbu, “Kami angkut mereka di daratan dan di lautan” . Sedang mengenai arsy di langit: Yang Maha Rahman menetapkan Dirinya sendiri atasnya (`alayhi istawa); sedang mengenai arsy di hati: Yang Maha Rahman menguasainya (`alayhi istawla). Arsy di langit adalah kiblat bagi doa seluruh makhluk, sedang arsy di hati adalah tempat melihat Al-Haq, Yang Maha Tinggi. Sehingga, ada ada perbedaan besar antara kedua arsy itu”  - Al-Qushayri.2

 

"Kami percaya bahwa “Ar-Rahman bersemayam atas arsy” (20:5), dan kami tidak tahu hakikat dan apa yang dimaksud (la na`lamu haqiqata mi`na dhalika wa al-murada bihi), pada saat yang sama kami percaya bahwa “tidak ada yang serupa dengan-Nya” (42:11) dan Dia Maha Tinggi di atas semua makhluk yang ditinggikan. Ini adalah jalan Salaf atau paling tidak mayoritasnya, dan inilah jalan paling selamat karena tidak perlu untuk membahas terlalu dalam masalah-masalah semacam ini. - Al-Nawawi.3

 

 Imam Abu al-Hasan al-Ash`ari berkata: “Penetapan bahwa Allah Maha Tinggi di atas arsy adalah sebuah perbuatan di mana Dia telah memberi nama istiwa sehubungan dengan arsy, persis sebagaimana Dia telah menciptakan sebuah perbuatan bernama ityan (datang) sehubungan dengan orang tertentu, tetapi hal ini tidaklah mengakibatkan baik turun atau gerakan” 4 Al-Bayhaqi menyatakan: "Abu al-Hasan `Ali al-Ash`ari mengatakan Allah Maha Tinggi mengakibatkan sebuah perbuatan sehubungan dengan arsy, dan Dia menamai perbuatan itu istiwa, sebagaimana Dia mengakibatkan perbuatan-perbuatan lain sehubungan dengan hal-hal lain, dan Dia memberi nama perbuatan itu sebagai rizq, ni’mat, atau perbuatan lain dari –Nya. 5  Hal ini juga pemahaman dari Ibn Hazm (d. 456) – meski dia merupakan lawan yang nyata dari Ash`ariyah – yang menjelaskan istiwa’ sebagai  "sebuah perbuatan sehubungan Arsy".6

 

Abu al-Fadl al-Tamimi menyebutkan dua sikap dari Imam Ahmad mengenai istiwa’: Satu kelompok meriwayatkan bahwa dia menganggapnya sebagai “sifat dari perbuatan” (min sifat al-fi`l), yang lain, "dari Sifat Zat" (min sifat al-dhat)."7 Ibn Battal menyebut juga bahwa Ahl al-Sunna memegang satu dari dua sikap: “Mereka yang memahami istawa sebagai `Dia meninggikan Diri-Nya Sendiri (`ala) menganggap istiwa sebagai sebuah Sifat Zati, sedang yang lain menganggap sebuah Sifat Perbuatan "8

 

Al-Tamimi lebih lanjut sehubungan dengan Ahmad berkata:

[Istiwa’]: Ini bermakna ketinggian (`uluw) dan terangkat, kenaikan (irtifa`). Allah Maha Tinggi adalah selalu tinggi (`ali) dan terangkat/mulia (rafi`) tanpa permulaan, sebelum Dia menciptakan Arsy. Dia di atas segala sesuatu (huwa fawqa kulli shay'), dan Dia ditinggikan atas segala sesuatu (huwa al-`ali `ala kulli shay'). Dia mengkhususkan Arsy hanya karena maknanya nyata yang membuatnya berbeda dari segala yang lain, yaitu Arsy adalah benda terbaik dan paling tinggi di antara yang lain. Allah Ta’ala dengan demikian memuji Diri-Nya dengan mengatakan bahwa Dia “menetapkan Diri-Nya di atas Arsy”, yaitu bahwa Dia meninggikan Diri-Nya Sendiri atasnya (`alayhi `ala). Adalah boleh untuk mengatakan bahwa Dia menetapkan Diri-Nya Sendiri dengan sebuah perjanjian atau pertemuan dengannya. Allah Maha Tinggi dari semua itu! Allah tidak berkenaan dengan perubahan, penggantian tidak juga batasan, baik sebelum atau sesudah penciptaan Arsy.9

 

Seorang ulama Maliki, Ibn Abi Jamra (w. 695H) mengatakan sesuatu pendapat yang serupa dalam komentarnya tentang hadis, “Allah menulis sebuah Al-Kitab sebelum Dia mencipta makhluk, perkataan: Ketahuilah rahmat-Ku mendahului kemarahan-Ku dan itu ditulis-Nya di atas Arsy”.

 

Hal ini mungkin dinyatakan dari kenyataan bahwa Al-Kitab disebut sebagai “di atas Arsy” bahwa kebijakan ilahi telah menentukan bagi Arsy untuk membawa apa pun yang Allah inginkan sebagai catatan atas keputusan-Nya, kekuatan-Nya, dan ilmu-Nya atas hal ghaib. Hal itu untuk menunjukkan kekhususan dari Ilmu-Nya yang meliputi segala masalah ini. Hal ini membuat Arsy sebagai salah satu dari tanda-tanda terbesar yang khusus dari Allah atas pengetahuan atas hal ghaib. Hal ini dapat menjelaskan ayat istiwa untuk merujuk kepada apa pun yang Allah inginkan karena kekuasaan-Nya, yaitu Al-Kitab yang Allah telah letakkan di atas Arsy-Nya” 10

 

Sufyan al-Thawri (w. 161 H) mengartikan istiwa’ dalam ayat “ Yang Maha Pemurah, yang bersemayam di atas 'Ars” sebagai “perintah sehubungan dengan Arsy” (amrun fi al-`arsh), sebagaimana dinyatakan oleh Imam al-Haramayn al-Juwayni dan dikutip oleh al-Yafi`i bukunya Marham al-`Ilal al-Mu`dila fi Daf` al-Shubah wa al-Radd `ala al-Mu`tazila

 

Pengertian istiwa sebagai cara/jalan bagi Allah untuk perintah khusus sehubungan dengan Arsy tidak berhubungan dengan jarak dan ini adalah ta’wil dari Imam Sufyan al-Thawri, yang mengambil bukti pendukung bagi ayat: “Kemudian Dia menuju kepada (thumma istawa) langit dan langit itu masih merupakan asap” (41:11), dengan arti “Dia melanjutkan padanya " (qasada ilayha).11

 

Al-Tabari dalam Tafsirnya, ketika menafsirkan ayat “Kemudian Dia menuju kepada (thumma istawa) langit dan dijadikan-Nya tujuh langit “(2:29), sbb.:

Arti istiwa pada ayat ini adalah ketinggian (‘uluw) dan ditinggikan… tetapi jika orang mengklain bahwa ini berarti prepindahan untuk Allah, katakana padanya: Dia Maha Tinggi dan Ditinggikan atas langit dengan ketinggian dari kekuasaan dan kekuatan, bukan ketinggian dari perpindahan dan pergerakan ke sana dan ke sini.

Sikap di atas adalah sikap dari paham Asy’ariah, sebagaimana ditunjukkan oleh sejumlah komentar dari Abu Bakr bin Arabi dan Ibn Hajr mengenai hal ini12  bertentangan dengan penafsiran orang  yang mengartikannya dengan ketinggian jarak seperti Ibn Taymiah. Ibn Taymiah mengatakan: “Maha Pencipta SWT adalah di atas dunia dan keadaannya dalam arti literal, bukan dalam arti kekuasaan atau kedudukan”. 13 Doktrin ini dengan menyeluruh dibantah oleh Ibn Jahbal al-Kilabi (w. 733H dalam  Radd `ala Man Qala bi al-Jiha ("Bantahan terhadap Ibn Taymiyya Yang Menyifati Allah SWT dengan Arah” ")14 dan Shaykh Yusuf al-Nabahani (1265-1350H) dalam bukunya Raf` al-Ishtibah fi Istihala al-Jiha `ala Allah (“Menghilangkan Keraguan atas Kemustahilan Arah bagi Allah”). 15

Ibn al-Jawzi (w 597H) pengantar bukunya Daf` Shubah al-Tashbih mengutip pendapat anthropomorphist, “Mereka tidak senang untuk mengatakan, “Sifat perbuatan (sifatu fi`l) sehingga mereka mengakhiri dengan perkataan, “Sifat Zat” (sifatu dhat).Ibn Hazm juga berkata, “Jika penempatan di atas arsy adalah abadi tanpa awal, maka Arsy adalah abadi tanpa awal, dan ini adalah pendapat yang kufur” 16

Al-Baihaqi mengutip salah satu pengikut Asy’ariah, Abu al-Hasan `Ali ibn Muhammad ibn Mahdi al-Tabari (d. ~380) dalam bukunya Ta'wil al-Ahadith al-Mushkalat al-Waridat fi al-Sifat ("Penafsiran atas Riwayat yang Sulit mengenai Sifat (Allah)”): “Allah di atas segala sesuatu dan menetap di atas Arsy dalam arti bahwa Dia Ditinggikan atasnya, arti dari istiwa’ adalah Pengangakatan-Diri (i`tila')."17  Ini adalah interpretaasi yang paling diterima di kalangan Salaf; Al-Baghawi mengatakan bahwa ayat, “Ar-Rahman alal arsy istawa” (20:5) menurut Ibn Abbas dan kebanyakan mufasir Quran adalah “Dia mengangkat Diri-Nya Sendiri” " (irtafa`a).18 Ini adalah penafsiran yang dikutip dari al-Bukhari dalam Sahih dari Tabi’in Rufay` ibn Mahran Abu al-`Aliya (w. 90H). Al-Bukhari juga mengutip dari Mujahid (w. 102H) penafsiran "menaikan" atau "mengangkat Diri-Sendiri ke atas" (`ala). Ibn Battal menyatakan bahwa pendapat tersebut adalah sikap dan perkataan yang benar dari Ahlu Sunah, karena Allah menyatakan Diri-Nya Sendiri sebagai Al-‘Ali,Yang Maha Ditinggikan” (2:255), dab berfirman: “maka Maha Tinggilah Dia (Ta’ala) dari apa yang mereka persekutukan. (QS. 23:92) .19

 

Sebaliknya, dalam sikap yang bertentangan dengan di atas adalah Ibn Taimiah dalam Fatawa, “Penempatan di atas Arsy adalah real, dan penempatan hamba di atas kapal adalah real” (lillahi ta`ala istiwa’un `ala `arshihi haqiqatan wa li al-`abdi istiwa’un `ala al-fulki haqiqatan).20 "Allah berserta kita dalam kenyataan dan Dia di atas Arsy dalam kenyataan (Allahu ma`ana haqiqatan wa huwa fawqa al-`arshi haqiqatan).. . .Allah beserta makhluk secara nyata dan Dia di atas Arsy secara nyata (Allahu ma`a khalqihi haqiqatan wa huwa fawqa al-`arshi haqiqatan)."21

 

Penafsiran lain yang umum digunakan oleh kalangan Asy’ariah belakangan untuk istiwa adalah istila  dan qahr, masing-masing berarti “kekuasaan yang kuat” dan “penguasaan”. Ibn Abdus Salam berkata:

Istiwa atas Arsy adalah metaphor untuk kekuasaan yang kuat (istila')  atas kerajaan-Nya  dan mengaturnya, sebagaimana puisi mengatakan:

qad istawa Bishrun `ala al-`Iraq min ghayri sayfin wa damin muhraq
"Bishr menguasai Iraq tanpa pedang dan tanpa pertumpahan darah"22

 

Ini adalah metaphor mirip dengan raja, yang mengatur urusan kerajaan-kerajaan mereka sementara dia duduk di antara para punggawa dan pangeran. Singgasana bisa juga dinyatakan sebagai kedudukan, seperti perkataan Umar ra.: 23 "Singgasanaku akan jatuh jika saya tidak mendapat rahmat dari Tuhan"24

 

Para antropomorfis (Al-jismiyah) mengatakan: “Artinya adalah penempatan (al-istiqrar)."25 Sebagian Ahl al-Sunna mengatakan: “itu artinya Dia mengangkat Diri-Nya Sendiri (irtafa`a)”, sementara yang lain: "Itu artinya menguasai (`ala),"”, dan yang lain mengatakan: “Artinya kerajaan (al-mulk) dan kekuatan (al-qudra)."26

 

Penafsiran kaum Sunni yang belakangan serupa dengan istila' dan qahr. Tetapi, karena kaum Mu’tazilah mengklain bahwa Sifat Ketuhanan itu berawal dalam waktu daripada tanpa ciptaan dan tanpa awal, penafsiran mereka ditolak oleh ulama ahli Sunah. Ibn Battal mengatakan:” Posisi Mu’tazilah adalah kosong dan ditolak, karena Allah itu qahir, ghalib, dan mustawli tanpa awal."27 Ibn Battal merujuk kepada pendapat Asy’ari di mana Sifat Perbuatan Allah seperti mencipta, meski berhubungan dengan makhluk, adalah tanpa awal sehubungan dengan Allah. 28 Kepada mereka yang keberatan dengan istawla dengan dasar bahwa hal itu necessarily supposed prior opposition,29 Ibn Hajar mencatat bahwa asumsi itu ditolak oleh ayat: “Allah dahulu adalah  (kana) Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana” yang tafsirkan oleh ulama dengan arti, “Dia selalu Maha Tahu dan Maha Bijaksana” 30

 

Ahli Bahasa dari Ash`ariah al-Raghib al-Asfahani (w. 402H) mengatakan bahwa istawa `ala memiliki arti istawla `ala ("Dia menguasai") dan dia mengutip ayat istiwa (20:5) sebagai sebuah contoh dari makna ini: “Hal ini berarti bahwa segala sesuatu sama dalam hubungannya dengan Dia, dalam arti bahwa tidak  ada hal yang lebih dekat dengan Dia disbanding dengan yang lain, karena Dia tidak seperti badan yang berada secara tertentu di suatu tempat dan bukan di tempat lain” 32 Dalam arti ini, baik pendapat Mu’tazila  tentang awal dari Sifat dan Literalis mengenai pendudukan-setelah-perjuangan (conquest -after-struggle) telah tertolak, dan istawla dapat dengan aman diterima di kalangan Ahl Sunah. Sebagaimana Ibn Battal mengatakan, “ pengartian pengaturan dan kekuasaan”, “menguasai” dan “penaklukan” tidak dianggap berlawanan dengan Sang Pencipta (Al-Khalik) sebagaimana “Zahir” (All-Victorious), “Qahhar” (All- Compelling), “ghalib” (Prevailer) atau “Qahir” (Omnipotent) tidak dianggap berlawanan atas bagian zat lainnya. Hal ini diperkuat oleh ayat, “Dan Dialah yang mempunyai kekuasaan tertinggi (Al-Qahir) atas semua hamba-Nya” (6:18, 6:61) dan “ Allah berkuasa (Al-Ghalib) terhadap urusan-Nya” (12:21). Al-Raghib, berkata:” itu berarti bahwa segala sesuatu adalah seperti itu dalam hubungannya dengan Dia” dan dia tidak mengatakan, “menjadi seperti”.

Ibn Al-Jauzi menyebutkan alasan lain untuk membolehkan tafsiran ini: “Siapa saja yang mengartikan “Dan Dia beserta kamu” (57:4) dalam arti “Dia beserta kamu dalam pengetahuan”, semestinya membolehkan lawannya untuk menafsirkan istiwa sebagai “al-qahr”, menguasai. 33

 

Begitu juga pemberian arti secara bahawa istiwa dengan istawla sebelumnya, diberikan oleh al-Akhtal (w. seb 110H) yang mengatakan: “Bishr menguasai (istawa ‘ala) Iraq tanpa pedang dan tanpa tumpahan darah”. Sebagian “Salafi” menolak penafsiran ini dengan dasar bahwa al-Akhtal adalah seorang Kriten abad ke-2H. Hal ini menunjukkan ketidaktahuan akan criteria yang disepakati bersama atas kekuatan pembuktian puisi bahasa Arab dalam Syariah, yang berkembang hingga abad 150 dan terlepas dari keyakinannya.

 

Dr. Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buti berkata:

Konsensus sehubungan dengan nash ini adalah dengan tidak disifatkan/diberikan bagi ayat-ayat itu segala makna yang menjadikan kesamaan atau keserupaan antara Allah dan makhluknya dan menjauhkan dari  pemaknaan secara lexical (literal) semata.

 

Cara yang wajib dilakukan adalah baik menjelaskan kata-kata ini sesuai dengan makna luar yang sesuai dengan Kesucian Ilahi atas segala keserupaan maupun sekutu, dan itu termasuk tidak mengartikan hal tersebut yang berasosiasi denga tubuh dan keserupaan dengan sifat kemanusiaan. Dengan demikian, hendaklah dikatakan, sebagai contoh: Dia bertahta di atas Arsy sebagaimana yang Dia katakan dengan makna yang sesuai dengan Keagungan dan Keesaannya, dan Dia memiliki Tangan sebagaimana yang Dia katakan, yang sesuai dengan Keagungan dan KetuhananNya, dan sebagainya.

Atau nash-nash itu dapat juga dijelaskan secara alegoris yang sesuai dengan kaidah bahasa dan sesuai dengan kebiasaan dalam pembicaraan dan konteks sejarahnya. Sebagai contoh: bertahta adalah bertahta dalam arti kekuasaan (istila’) dan kekuatan (tasallut); Tangan Allah adalah KekuatanNya dalam firman-Nya, “Tangan Allah di atas tangan mereka” (48:10) dan Kemurahan-Nya dalam firman-Nya, “(Tidak demikian), tetapi kedua-dua tangan Allah terbuka; Dia menafkahkan sebagaimana Dia kehendaki (5:64).34

 

Adapun penafsiran istiwa sebagai duduk (julus), hal ini dinyatakan dalan buku yang dinisbatkan kepada `Abd Allah ibn Ahmad ibn Hanbal berjudul Kitab al-Sunna (p. 5, 71): "Adakah makna lain dari bersemayam (istiwa’) selain duduk (julus)?" “Allah SWT duduk di atas Kursi dan menetap di sana  hanya 4 langkan yang kosong”. Al-Khallal dalam Kitab al-Sunna (p. 215-216), menyatakan baransiapa yang menolak bahwa “Allah duduk di atas kursi dan terdapat jarak langkah yang kosong” adalah kafir. `Uthman al-Darimi bahkan mengatakan lebih jauh, “Jika Dia berkehendak, Dia bahkan bisa duduk di atas kutu ….., apalagi Arsy yang besar”35 Ibn Taymiyya dan  Ibn al-Qayyim mendukung pandangan ini.36 Al-Kawthari menulis dalam Maqalat: "Siapa saja yang membayangkan Tuhan kita duduk di atas kursi, dan meninggalkan tempat kosong di sampingnya untuk Rasul-Nya duduk, dia telah mengikuti kaum Nasrani yang percaya bahwa Isa AS diangkat ke langit dan duduk di samping Bapanya – Allah ditinggikan dari persekutuan yang mereka sifatkan kepada-Nya” 37

 

Bukti di atas serupa dengan bukti dari pernyataan Imam Malik: “Istiwa adalah diketahui, dan “bagaimana” di luar kemampuan akal, dan bertanya mengenainya adalah bid’ah” 39 Shaykh al-Islam Taqi al-Din al-Subki bahwa sifat istiwa yang di luar kemampuan akal membuktikan tidak dapat diterimanya makna “duduk” 40

 

Dalam Tafsir Quran berjudul Lata'if al-Isharat ("Isyarat Halus"), Imam Abu al-Qasim al-Qushayri (d. 465) – bersama dengan Imam al-Haramayn Ibn al-Juwayni dan al-Khatib al-Baghdadi tokoh utama dari generasi ke-4 murid al-Ash`ari's menyimpulkan posisi Ahl al-Sunna tentang istiwa’:

 

Dia bersemayam atas Arsy” (7:54; 13:2; 20:5; 25:59; 32:4), tetapi Dia yang tanpa awal tidak memiliki batas (al-qadim laysa lahu hadd). Dia  “bersamayam atas Arsy”, tetapi Arsy mestinya lebih membutuhkan daripada sebuah iota (makhluk hidup kecil) dalam hubungannya (al-wisal) [dengan Dia] jika dia adalah makhluk hidup. Namun ia adalah suatu benda yang tidak hidup,dan kapan benda pernah memiliki keinginan? Dia “bersamayam atas Arsy”, namun Dia tempat bergantung selamanya tanpa sekutu, Satu tanpa batasan. 41

 

Wallahu a’lam.

Allahumma shali ‘alaa Muhammad wa aali wa shahbihi wa salim.

 

 NOTES

1. dalam Tafsir (18:281).

2 Dalam Lata'if al-Isharat (4:118).

3 Al-Nawawi, al-Majmu` Sharh al-Muhadhdhab (1:25).

4 dikutip dari `Abd al-Qahir al-Baghdadi, Usul al-Din (p. 113).

5 Al-Bayhaqi, al-Asma' wa al-Sifat (2:308).

6 dalam al-Fisal fi al-Milal (2:125).

7 Ibn Abi Ya`la, Tabaqat al-Hanabila (2:296).

8 dalam Ibn Hajar, Fath al-Bari (1959 ed. 13:406).

9 Ibn Abi Ya`la, Tabaqat al-Hanabila (2:296-297).

10 Ibn Hajar, Fath al-Bari, Tawhid ch. 22 (1959 ed. 13:414; 1989 ed. 13:508 #7422).

11 dalam al-Yafi`i, Marham al-`Ilal (p. 245) dan Abu al-Ma`ali Ibn al-Juwayni, al-Irshad (p. 59-60).

12 Masing-masinf dalam `Arida al-Ahwadhi (2:234-237) dan Fath al-Bari (3:37-38, 6:136 [Jihad], juga Tawhid ch. 23.).

13 dalam al-Ta'sis al-Radd `ala Asas al-Taqdis (= Talbis al-Jahmiyya 1:111).

14 Dikutip penuh dari  Ibn al-Subki's Tabaqat (9:35-91).

15. Dalam al-Nabahani's Shawahid al-Haqq (p. 210-240).

16 Dalam al-Fisal (2:124).

17 Dalam al-Bayhaqi, al-Asma' wa al-Sifat (al-Hashidi ed. 2:308).

18 Diriwayatkan oleh Ibn Hajar dalam Fath al-Bari (1959 ed. 13:409f.), Kitab Tawhid, chapter 22.

19 Ibid.

20 Ibn Taymiyya, Majmu` al-Fatawa, Vol. 5 al-Asma' wa al-Sifat (5:199).

21 Op. cit. (5:103).

22 Cf. Mukhtar al-Sihah (p. 136).

23 Diriwayatkan sebagai sebuah mimpi yang terlihat setelah wafatnya Umar. Lihat berikutnya dalam entri `arsh: Lisan al-`Arab, Ibn al-Athir's al-Nihaya, al-Raghib's Mufradat Alfaz al-Qur'an, al-Basa'ir (4:24), and `Umda al-Huffaz.

24 Ibn `Abd al-Salam, al-Ishara ila al-Ijaz (p. 104-112).

25 Penafsiran istawa sebagai  istaqarra dalam ayat  “Kemudian Dia bersemayam di atas Arsy” (32:4) sebenarnya diriwayatkan dari al-Kalbi dan Muqatil oleh al-Baghawi – dalam tafsirnya berjudul Ma`alim al-Tanzil (al-Manar ed. 3:488) – yang menambahkan bahwa Ahli asal bahasa (Filologis) Abu `Ubayda [Ma`mar ibn al-Muthanna al-Taymi (d. ~210)] mengatakan "Dia  menetap (mounted)" (sa`ida). Pickthall mengikuti yang belakangan ini dalam menafsirkan ayat: “Then He mounted the Throne”. Inilah sikap dasar dari "Salafi" sebagaimana dinyatakan oleh Imam Muhammad Abu Zahra: " Salafis dan Ibn Taymiyya menyatakan bahwa penempatan terjadi atas Arsy …. Ibn Taymiyya dengan semangat menyatakan bahwa Allah turun dan bisa di atas (fawq) dan di bawah (that) ‘tanpa bagaimana”.... dan bahwa manhaj Salaf adalah konfirmasi segala sesuatu yang dinyatakan dalam  Al-Quran mengenai ‘atas’ (fauqiyah), “bawah” (tahtiyah) dan “semayam di atas Arsy” (secara leterlek )" Abu Zahra, al-Madhahib al-Islamiyya (p. 320-322).

26 Ibn Hajar, Fath al-Bari (1959 ed. 13:409).

27 Dalam Fath al-Bari (1959 ed. 13:409f.).

28 Lih. Ibn Khafif's `Aqida §§15-19.

29 Cf. Ibn al-A`rabi dalam al-Dhahabi's Mukhtasar al-`Uluw (p. 195 #241) dan Dawud al-Zahiri keduanya dikutip oleh Ibn Hajar dalam Fath al-Bari - dan Ibn `Abd al-Barr dalam pembahasan hadis ‘turun’ dalam al-Tamhid: "arti istawla secara bahasa adalah `menguasai, memenan gkan' dan Allah tidak butuh mengalahkan apa pun”

30 Fath al-Bari (1959 ed. 13:409f.).

31 Fath al-Bari (1959 ed. 13:409f.).

32 al-Zabidi, Taj al-`Arus, entry s-w-y.

33 Daf` Shubah al-Tashbih (1998 al-Kawthari repr. p. 23).

Sumber: As-Sunah Foundation of America