Make your own free website on Tripod.com
Islam adalah Agama Kerja (1)
Oleh : Warsono

“.. Dan bekerjalah, Wahai Keluarga Daud, sebagai (ungkapan) syukur (kepada
Allah) (QS 34;14)

Banyak orang memberikan gambaran orang Islam yang baik dan taat, adalah
semata-mata dari berapa banyak dia melakukan shalat sunat, doa-doa,
dzikir-dzikir, dan lain-lain. Sangat jarang orang mengaitkan ketaatan beragama
misalnya dengan bagaimana dia giat bekerja, tegar berusaha, rajin di laboratorium atau berperilaku hemat. Bahkan kadang orang yang "terlalu" giat  bekerja dicap sebagai orang yang jauh dari agama.
 
Tentu benar, ketaatan beribadah (dalam arti ritual) menjadi syarat mutlak ketaatan seseorang, namun sesungguhnya kalau kita kaji lebih dalam Islam adalah agama yang sangat menjunjung tinggi kerja, amal saleh (yang artinya perbuatan baik), atau action. Kerja adalah bagian penting dari ibadah. Islam adalah agama kerja.

Berikut, akan disampaikan sepintas ilustrasi bagaimana Islam sesungguhnya
meninggikan nilai kerja, amal nyata, atau action yang berguna bagi lingkungan
dan bagi sesama.

Kerja adalah Pesan Moral dan Tindak Lanjut dari Ibadah Ritual
Kalau kita perhatikan ibadah (ritual) dalam Islam memiliki bentuk yang sangat
khas dibanding dengan agama lain. Apa itu? Jika ibadah dalam agama lain
dilakukan dengan kondisi relatif diam, tenang, dan pasif, maka ibadah dalam
Islam sangat dinamis, dan penuh dengan gerakan-gerakan. Contoh sangat nyata adalah shalat. Shalat adalah ibadah yang sangat sentral dan teragung dalam Islam, bahkan menjadi batas keimanan seseorang atau tidak. Kalau kita amati, shalat dari awal sampai dengan akhir, disertai dengan gerakan seluruh tubuh kita. Apalagi haji, sebagai ibadah paripurna seorang muslim. Haji adalan ibadah total action, sangat penuh dengan gerakan fisik. Kalau shalat meski penuh gerakan namun di tempat saja, maka haji gerakannya melintasi tempat yang jauh. Begitu juga puasa, zakat, semuanya action.
 
Ibadah adalah penghambaan kepada Allah semata, namun semua ibadah kita harus memiliki implikasi kerja, implikasi sosial. Bahkan tata urutan ibadah selalu terkait dengan kerja. Shalat, misalnya, didasari dengan wudlu (penyucian diri), diawali dengan takbir (pengagungan kepada Allah), dan diakhiri dengan salam ke kanan dan kekiri. Salam adalah menyebarkan kedamaian, kesejahteraan dan keselamatan. Pesannya sangat jelas! Kegiatan ibadah shalat berupa ibadah penyucian diri, dan mengagungkan Allah, harus dibuktikan dengan menyebarkan kedamaian, kesejahteraan dan keselamatan kepada lingkungan. Dan itu –tidak bisa tidak- dilakukan dengan kerja, action.
 
Secara jelas Al-Quran menyebut pesan moral atau tujuan dari shalat berkaitan
dengan kerja. “…dan Dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar” (QS Al-Ankabut: 45)
 
Begitu juga ibadah shaum (puasa) yang merupakan ibadah pengendalian nafsu dan penyucian diri, diakhiri dengan zakat fitrah, yaitu berbagi kepada sesama. Tidak berbeda dengan shalat, puasa juga harus mampu melahirkan semangat kerja. Haji diawali dengan wukuf (berdiam diri), dilanjutkan dengan tawaf, melempar jumrah, dan saí. Semuanya action.
 
Semua kegiatan ibadah memiliki benang merah yang sama. Kegiatan ibadah adalah merupakan penyucian jiwa, pengisian dengan sifat-sifat suci Allah, pengagungan dan berkomunikasi dengan Allah, yang harus diwujudkan dalam amal shaleh – kerja- kepada sesama.
 
Dinamisnya ibadah dalam Islam juga terlihat pada arsitektur masjid. Berbeda
dengan tempat ibadah agama lain yang dirancang tertutup, sepi, kadang kalau
perlu gelap, jauh dari keramaian. Masjid selalu bercirikan terang, terbuka,
banyak jendela, dan berada di dalam pusat aktivitas manusia. Bahkan dalam
sejarah Nabi, pengaturan umat selalu dilakukan di dalam masjid.

Ketinggian Kerja dalam Al-Quran dan Sunah Nabi.
Al-Quran dalam banyak sekali ayat, menyebutkan bahwa iman saja tidak cukup, tetapi harus disertai dengan amal shaleh, kerja, action. Tidak cukup iman saja tetapi harus dimanifestasikan dengan amal. Cukuplah, dinukilkan surat Al-Ashr untuk mewakili ayat-ayat tentang iman dan amal shaleh.
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali
orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.”
Dari ciri-ciri orang yang tidak rugi, selain keimanan semuanya berkaitan dengan kerja; amal shaleh, menasehati, menaati kebenaran, menetapi kesabaran.
 
Al-Quran juga memerintahkan agar kita selalu mencari karunia Allah di bumi
dengan bekerja sebagai ungkapan rasa syukur, bahkan setelah shalat pun kita
dianjurkan untuk segera bertebaran di muka bumi untuk bekerja. Sebagaimana
disebut dalam ayat-ayat berikut:
 
“.. Dan bekerjalah, Wahai Keluarga Daud, sebagai (ungkapan) syukur (kepada
Allah) (QS 34;14)
“Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagimu, maka berjalanlah di segala
penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya.” (QS 67: 15)
"Apabila Telah ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan
carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung."( QS 62: 10)
 
Dalam hadis juga banyak diungkapkan tentang orang-orang yang utama, kebanyakan berkaitan dengan kerja, tindakan, action. Berikut di antaranya hadis-hadis yang terkenal:
“Sebaik-baik kamu adalah yang paling baik perangainya/ akhlaqnya”
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia”
“Muslim yang terbaik adalah muslim yang muslim lainnya selamat/merasa aman dari gangguan lisan dan tangannya."
“Sebaik-baik kamu adalah yang belajar Al-Quran dan mengajarkannya”
“Sebaik-baik kamu adalah yang terbaik (berperilaku) kepada keluarganya”
“Tangan diatas lebih baik daripada tangan di bawah”
“Sebaik-baik kamu ialah orang yang mempertahankan keluarganya selagi perbuatan itu tidak membawa kepada dosa”
“Barangsiapa yang menjadi susah pada petang hari kerana kerjanya, maka
terampunlah dosanya.” (Hadis riwayat Tabrani)
 
Bekerja bukan hanya dianjurkan untuk memberi manfaat kepada manusia, tetapi juga sangat dipuji jika bermanfaat bagi makhluk yang lain.
Rasulullah S.A.W. bersabda, "Seorang muslim yang menanam atau menabur benih, lalu ada sebahagian yang dimakan oleh burung atau manusia, atapun oleh binatang, nescaya semua itu akan menjadi sedekah baginya" (Riwayat Bukhari, Muslim dan Ahmad).

Ketika menyebutkan ciri-ciri orang yang beriman, baik dalam Al-Quran selalu
menyebut dengan amal, kerja, kegiatan, atau action. Misalnya ciri-ciri orang
beriman dalam surat Al-Mukminun 1-11, yang menyebutkan ciri orang beriman
sebagai orang yang khusyu shalat, berzakat, meninggalkan perbuatan yang sia-sia, menjaga kehormatan (kemaluan), dan menjaga amanat. Dalam Hadis terkenal misalnya ciri orang beriman adalah berkata baik atau diam, menghormati tetangga. Kebanyakan ciri-ciri orang beriman berkaitan dengan amal nyata atau kerja.

Suatu ketika, Rasulullah mencium tangan kasar seseorang karena bekerja keras sebagai pemecah batu dan beliau memujinya bahwa tangan itu dicintai Allah. Subhanallah! …..
Kerja Keras Para Nabi dan Orang-orang Shalih
Kemudian kalau kita pelajari sejarah para Nabi AS, apalagi sejarah Nabi
Muhammad SAW, para sahabat Nabi, hingga zaman keemasan Islam semua memiliki teladan yang sama, yaitu kerja keras membangun diri dan masyarakat. Tidak ada satu pun contoh-contoh dari mereka yang hanya mementingkan ibadah ritual semata.
 
Sebagai contoh akan diulas singkat teladan Nabi Musa AS dan Nabi Muhammad SAW. Di antara para rasul yang paling banyak dikisahkan dalam Al Quran adalah Nabi Musa AS. Kalau dilihat kisahnya, berisi perjuangan luar biasa membina masyarakat Bani Israil. Mulai dari hijrah bertemu Nabi Syuaib AS, menghadapi Firaun, memimpin exodus besar-besaran Bani Israil dari Mesir ke Palestina yang memakan waktu puluhan tahun, hingga yang sangat menyita waktu adalah memberi dakwah kepada Bani Israil yang sangat “ngeyel”.

Begitu juga Nabi Muhammad SAW, beliau tidak hanya menghabiskan waktu untuk berzikir saja. Baik pada periode Makkah maupun Madinah, beliau bekerja keras mendakwahkan Islam person to person, membina mental sahabat, membentuk kader, membangun masyarakat, memimpin perang, mengatur strategi, membuat perundingan, dan lain-lain. Kalau kita pelajari detil sejarah Nabi Muhammad SAW, kita dapati hari demi hari, tahun demi tahun yang penuh perjuangan dan kerja keras bersama para sahabat. Pada saat Rasulullah SAW wafat umat Islam menguasai hampir seluruh jazirah Arab.

Hal ini dilanjutkan oleh para Khalifah Rasyidah, hingga dalam waktu singkat
(terutama masa Umar Al-Faruq) Islam menyebar dengan penaklukan Persia
(superpower masa itu) ke barat hingga ke Afrika berhadapan dengan Bizantium
(superpower yang lain). Kemudian sejarah berlanjut hingga penaklukan Eropa,
India, sehingga umat Islam menjadi pusat peradaban dan ilmu pengetahuan pada saat itu. Sejarah yang luar biasa! Dan itu dicapai dengan kerja keras, bukan hanya ibadah ritual semata.
 
Secara pribadi, kita juga mendapati Rasulullah SAW dan para sahabat adalah
orang-orang yang menyukai kerja. Rasulullad SAW selain bekerja untuk umatnya, beliau melubangi sendiri sandalnya, menambal sendiri bajunya, memeras sendiri susu kambingnya dan melayani keluarga. Subhanallah, Rasulullah adalah pemimpin sejati!

Kerja: Gerak Universal alam semesta
Al-Quran memuat sangat banyak kejadian-kejadian alam semesta, bahkan menurut Dr Mahdi Ghulsyani (cendekiawan muslim Iran) hingga 10% dari ayat-ayat Al-Quran. Semua berpusat pada ketundukan, tasbih dan sujud jagad raya pada Tuhannya. Salah satu di antaranya, “Bertasbihlah kepada Allah semua yang ada di langit dan di bumi, dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”(QS 61:1)

Kita tidak tahu bagaimana tasbih alam semesta, namun manifestasinya sangat
jelas. Manifestasi dari tasbih dan sujud alam semesta adalah aneka kerja yang
kontinu dan teratur dari alam semesta. Gerakan aneka benda langit pada orbitnya, reaksi fusi bintang-bintang yang menyebarkan energi kepada lingkungan, pengembangan alam semesta, sebagai contoh di antaranya. Semua bergerak, bekerja, dan berproses, itulah bentuk ibadah mereka yang bisa kita lihat. Di antara bentuk ibadah batu misalnya adalah dengan meluncur jatuh, sebagaimana ayat, “.. dan di antaranya (batu) ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah”(QS 2:74)

Banyak sekali ayat-ayat tentang alam semesta, dari yang besar mengenai galaksi hingga hewan-hewan kecil seperti semut, semua mengikuti perintah Allah dengan bekerja secara terus menerus. Sehingga kita bekerja pada dasarnya adalah seirama dengan gerak universal alam semesta, seirama dengan sujud alam semesta. Kahlil Gibran dalam Sang Nabi membuat puisi yang sangat indah:

Kau bekerja, supaya langkahmu seiring irama bumi
Serta perjalanan roh jagad ini
Berpangku tangan menjadikanmu orang asing bagi musim,
Serta keluar dari kehidupan itu sendiri
Yang menderap perkasa, megah dalam ketaatannya
Menuju keabadian masa

Bekerja sebagai Pengabdian kepada Allah SWT
Kalau sekedar bekerja, bukankah semua orang melakukan, umat lain melakukannya? Bahkan kaum ateis pun bekerja. Lalu apa bedanya?
Tentu ajaran bekerja para Nabi sangat berbeda. Bekerja dalam ajaran Islam
adalah manifestasi dari iman. Bekerja adalah sebagai bagian dari ibadah. Sedang bagi umat yang lain, mungkin hanya sekedar mengisi waktu, mengejar harta, dll.

Berikut secara ringkas ciri bekerja sebagai pengabdian kepada Allah SWT:
1. Motivasi kerja : pengabdian kepada atau mencari ridha Allah SWT
2. Cara kerja : sesuai/tidak bertentangan dengan syariat Islam
3. Bidang kerja : yang halal, baik/ma’ruf
4. Manfaat kerja : kebaikan, kesejahteraan, keselamatan bagi semua (rahmatan lil alamin)
 
Dengan bekerja sebagai motivasi ibadah, semestinya selalu memberikan yang
terbaik. Selalu bekerja semaksimal mungkin, bukan seadanya. Itulah yang disebut sebagai “ihsan” (berbuat baik) atau “itqan”(hasil terbaik). Allah bahkan
memerintahkan kita meniru karya Allah dalam bekerja, “… maka berbuat baiklah (fa ahsin) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu”(QS 28:77)
 
Bekerja dengan motivasi di atas semestinya juga akan melahirkan kerja keras,
tegar, jujur, dan profesional dalam kondisi apa pun. Berbeda dengan motivasi
jabatan misalnya, hanya bekerja ketika ada iming-iming atau konsekuensi jabatan, jika tidak dia akan enggan. Sedang bekerja dengan motivasi ibadah semesteinya akan bekerja dengan semangat meski imbalan langsung tidak nampak, meskipun uang sedikit, meski tidak ada yang melihat, meski tidak dipuji atasan. Karena memang motivasinya adalah pengabdian kepada Allah SWT. Sedang Dia selalu ada, selalu mengawasi, selalu mengetahui apa yang kita lakukan.

Kalau demikian, mengapa bangsa muslim kini justru identik dengan bangsa yang malas, tidak dapat dipercaya, tidak disiplin, kurang etos kerja, bahkan :
korup!? Ini kenyataan yang harus kita akui bersama, dan menjadi tugas kita
bersama untuk memperbaiki. Mulai dari diri sendiri, di sini dan sekarang!
 
Ternyata kini kita bekerja jauh dari semangat dan nilai-nilai Islam dan teladan
para pendahulu kita. Kita juga memandang agama dengan cara yang salah. Kita menganggap kerja dan ibadah adalah dua hal yang berbeda dan terpisah. Akibatnya adalah sikap mendua (split personality) dalam bekerja. Maka kini kita dapati kenyataan aneh seperti orang yang rajin beribadah (ritual) namun rajin juga menilap aset kantor, bahkan milik masyarakat, tidak jujur, atau suka main terabas.

Kita sudah shalat, namun shalat kita belum mampu membangun karakter sehingga mampu mencegah dari perbuatan keji dan munkar. Kita belum bisa menjadikan puasa sebagai perisai kita melawan tarikan nafsu-nafsu yang rendah. Kita belum mampu menjadikan haji sebagai total pengabdian kepada Allah SWT.

Masya Allah, kita beragama namun menjauh dari nilai-nilai agama. Kita beribadah ritual namun kita semakin menjauh dari petunjuk Allah. Kita lebih memilih topeng dalam beragama. Kita memilih kulitnya, lalu membuang isinya.
 
Akhirnya, marilah kita jadikan setiap ayunan langkah kita dalam bekerja sebagai zikir kita kepada Allah SWT. Kita jadikan setiap gerakan tangan kita dalam bekerja sebagai tasbih kita kepadaNya. Kita jadikan setiap ucapan dan pikiran dalam bekerja sebagai sujud dan syukur kita kepada Rabbul Izzati.

Amien!